Kementan perkuat ISPO demi industrialisasi sawit berkelanjutan

3 hours ago 1
Indonesia tidak boleh mundur. Sawit adalah kekuatan ekonomi bangsa. Karena itu, tata kelola harus kuat dan berkelanjutan, serta didorong ke arah hilirisasi agar manfaat ekonominya semakin luas bagi masyarakat,

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat penerapan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) guna mendorong industrialisasi sawit berkelanjutan sekaligus menjaga daya saing industri kelapa sawit nasional.

"Kementerian Pertanian terus memperkuat tata kelola industri kelapa sawit nasional melalui penerapan standar ISPO yang kini bersifat wajib," kata Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman dalam keterangan di Jakarta, Selasa.

Dia menyampaikan, kebijakan itu menjadi langkah strategis untuk memastikan industri sawit Indonesia tumbuh secara berkelanjutan, sekaligus menjaga daya saing di tengah tekanan dan dinamika pasar global.

Ia menegaskan, penguatan standar keberlanjutan merupakan fondasi penting bagi masa depan industri sawit nasional.

Baca juga: PalmCo perkuat integritas untuk dorong kinerja industri sawit nasional

Dengan tata kelola yang semakin baik, komoditas strategis ini diharapkan tidak hanya mampu bertahan dari berbagai tekanan perdagangan global, tetapi juga menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.

“Indonesia tidak boleh mundur. Sawit adalah kekuatan ekonomi bangsa. Karena itu, tata kelola harus kuat dan berkelanjutan, serta didorong ke arah hilirisasi agar manfaat ekonominya semakin luas bagi masyarakat,” ujar Amran.

Menurutnya, transformasi subsektor perkebunan, khususnya kelapa sawit, harus diarahkan pada pengembangan industri turunan yang memiliki nilai tambah tinggi.

Dengan demikian, Indonesia tidak lagi hanya bergantung pada ekspor bahan mentah, tetapi mampu memperkuat posisi sebagai pusat industri hilir sawit dunia.

Baca juga: BRIN kembangkan limbah sawit jadi Inacell, material ramah lingkungan

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Perkebunan Kementan Abdul Roni Angkat menjelaskan, industri kelapa sawit Indonesia memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan minyak nabati lainnya, terutama dari sisi produktivitas dan efisiensi penggunaan lahan.

Luas perkebunan kelapa sawit nasional tercatat mencapai 16,83 juta hektare, dengan proyeksi produksi crude palm oil (CPO) pada tahun 2025 diperkirakan mencapai 48,12 juta ton.

Dengan kapasitas tersebut, Indonesia tetap menjadi produsen sawit terbesar di dunia dan memainkan peran penting dalam memenuhi kebutuhan minyak nabati global.

Selain memberikan kontribusi signifikan terhadap devisa negara, sektor sawit juga menjadi sumber penghidupan bagi jutaan masyarakat.

Baca juga: Kemendag: Produk olahan sawit dan nikel dongkrak ekspor RI

Tercatat lebih dari 16 juta tenaga kerja bergantung pada industri ini, termasuk sekitar 5,2 juta pekebun rakyat yang menjadi bagian penting dari rantai produksi nasional.

Roni menambahkan, pemerintah terus memperkuat pendampingan kepada pekebun melalui berbagai program strategis, antara lain program peremajaan sawit, dukungan sarana dan prasarana produksi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta penguatan riset dan inovasi untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil.

“Sawit menyerap banyak tenaga kerja. Karena itu, produktivitas dan keberlanjutan harus berjalan beriringan,” ujarnya.

Melalui penguatan standar ISPO dan percepatan pengembangan industri hilir di dalam negeri, pemerintah optimistis industri sawit Indonesia akan semakin tangguh menghadapi dinamika global.

Baca juga: Pakar: Penertiban sawit yang diklaim ilegal harus berbasis data

Dengan tata kelola yang semakin baik, sawit tidak hanya menjadi penyokong ekonomi nasional, tetapi juga berperan strategis dalam mendukung ketahanan pangan, energi, serta pembangunan berkelanjutan di tingkat

Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |