Jakarta (ANTARA) - Ekonom dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution Rony P Sasmita menekankan tiga kunci utama untuk kreator dalam ekosistem ekonomi digital Indonesia dapat berkembang dalam persaingan pasar secara global.
Rony menekankan kualitas dan diferensiasi produk dari kreator Indonesia yang harus naik kelas dari sekedar konten viral, ke konten yang punya nilai tambah dan identitas yang kuat.
“Tantangan ke depan bukan lagi soal ‘tumbuh atau tidak’, tapi ‘siapa yang akan menang dalam kompetisi global’. Karena sekarang kreator Indonesia tidak hanya bersaing di pasar domestik, tapi langsung dengan kreator dari seluruh dunia,” kata Rony kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Ia melihat prospek pertumbuhan kreator di sektor ekonomi digital Indonesia ke depan sangat besar dan masih pada fase awal pertumbuhan.
Ia mengatakan dalam persaingan usaha di ranah digital, Indonesia mempunyai keunggulan dari sisi demografi yang saat ini didominasi generasi muda, jumlah pengguna internet yang tinggi, dan pusat talenta kreatif yang besar dan tersebar mulai dari daerah.
Baca juga: Kemenperin perkuat pembinaan IKM sektor kreatif ambil peluang pasar
Selain itu, kreator juga harus pandai memonetisasi produk dengan berkolaborasi dengan sektor lain untuk memperkaya model produknya.
“Ketergantungan pada platform ads revenue saja tidak cukup. Harus ada diversifikasi seperti brand partnership, produk sendiri, membership, dan lain-lain,” jelasnya.
Rony juga menekankan pentingnya kehadiran negara sebagai kunci perkembangan ekonomi digital di Indonesia bukan hanya sebagai regulator tapi sebagai enabler yang memastikan ekosistem ini tumbuh sehat, kompetitif dan tidak kalah dengan negara lain.
Ia mengatakan dengan masuknya pekerjaan konten kreator sebagai usaha yang termasuk dalam Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2025 dan kewajiban memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB), sebagai langkah kebijakan yang sudah tepat.
“Ekonomi digital, terutama kreator konten, sudah bukan aktivitas sampingan, tapi telah menjadi ‘economic sector’ dengan nilai ekonomi yang besar. Jadi negara memang perlu mulai ‘mengakui’ dan ‘mengadministrasikan’ aktivitas ini,” katanya.
Baca juga: Menekraf: Optimalisasi aset tak berwujud perkuat otonomi strategis RI
Baca juga: Dinpar DIY: Fesyen merupakan subsektor ekraf potensial di masa depan
Baca juga: Industri kreativitas lokal berpeluang bertahan di kondisi geopolitik
Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































