Ekonom: Prospek bunga kredit bank akan mendatar dan naik selektif

1 hour ago 1
Ini berarti bank mulai lebih cepat meneruskan perubahan suku bunga kebijakan ke harga kredit baru

Jakarta (ANTARA) - Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memandang prospek bunga kredit perbankan ke depan akan cenderung bergerak mendatar dan kemudian naik selektif, menyusul kenaikan bunga acuan (BI-Rate) sebesar 100 basis poin (bps) pada Mei-Juni 2026.

Sementara itu, catat dia, suku bunga kredit baru akan lebih cepat meningkat dibanding kredit berjalan.

“Bank kemungkinan tidak menaikkan bunga secara merata, tetapi memilih menaikkan bunga pada debitur yang risikonya lebih tinggi, sektor yang arus kasnya melemah, atau kredit yang membutuhkan tenor panjang,” kata Josua saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.

Josua menilai kenaikan bunga bisa lebih terkendali untuk sektor prioritas yang mendapat dukungan insentif likuiditas dari Bank Indonesia (BI).

Namun, imbuh dia, untuk UMKM, konsumsi, properti, otomotif, dan modal kerja, tekanan bunga perlu diwaspadai karena kenaikan biaya dana (cost of fund/CoF) berpotensi bertemu dengan kenaikan risiko kredit.

Menurut Josua, bunga kredit juga tidak akan naik setinggi kenaikan BI-Rate secara penuh. Hal ini setidaknya ada tiga penahan utama, salah satunya likuiditas perbankan masih cukup baik, terlihat dari dana pihak ketiga (DPK) yang tetap tumbuh kuat dan rasio alat likuid terhadap DPK (AL/DPK) yang masih memadai.

Penahan kedua yakni persaingan antarbank masih menahan kenaikan bunga kredit agar permintaan kredit tidak turun terlalu tajam. Kemudian yang ketiga, kebijakan makroprudensial Bank Indonesia (BI) tetap longgar untuk menjaga kredit ke sektor prioritas.

Ia juga memandang, penurunan bunga kredit perbankan yang berlangsung sepanjang 2025 hingga awal 2026 hampir pasti tertahan, bahkan kredit baru mulai berbalik naik.

Rata-rata suku bunga kredit rupiah masih turun tipis menjadi 8,72 persen pada Mei 2026 dari 8,73 persen pada April 2026. Namun, suku bunga kredit baru tercatat meningkat tajam dari 8,95 persen pada April 2026 menjadi 9,31 persen pada Mei 2026.

“Ini menunjukkan bahwa bunga kredit lama belum sepenuhnya menyesuaikan karena ada jeda waktu, sedangkan kredit baru sudah lebih cepat mencerminkan kenaikan biaya dana, risiko debitur, dan sikap bank yang lebih hati-hati,” kata Josua

Ia menambahkan bahwa risiko kenaikan bunga kredit ke depan juga cukup nyata karena sensitivitas bunga kredit baru terhadap BI-Rate meningkat.

Koefisien elastisitas suku bunga kredit baru tercatat naik menjadi 0,50 pada Mei 2026 dari 0,43 pada April 2026, jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 0,13.

“Ini berarti bank mulai lebih cepat meneruskan perubahan suku bunga kebijakan ke harga kredit baru,” ujar Josua.

Ia memperkirakan kenaikan bunga kredit baru yang paling terasa kemungkinan terjadi pada kredit konsumsi, kredit modal kerja, kredit pemilikan rumah (KPR) berbunga mengambang (floating), kredit kendaraan bermotor (KKB), kredit UMKM berisiko lebih tinggi, dan kredit korporasi yang bergantung pada pendanaan jangka pendek.

Dari sisi biaya dana, menurutnya, kenaikan BI-Rate 100 bps pada Mei-Juni 2026 juga berpotensi membalik arah biaya dana perbankan meski kenaikannya kemungkinan bertahap.

Adapun pada April 2026, biaya dana masih mengalami penurunan. Hal ini tercermin dari harga pokok dana untuk kredit (HPDK) yang turun tipis menjadi 3 persen dari bulan sebelumnya yang tercatat 3,01 persen.

Penurunan HPDK turut menopang penurunan suku bunga dasar kredit (SBDK) dari 8,63 persen pada Maret 2026 menjadi 8,62 persen pada April 2026.

Namun, Josua menilai bahwa arah transmisi mulai berubah setelah BI menaikkan suku bunga secara agresif pada Mei-Juni 2026 sebesar 100 bps.

Baca juga: OJK: BI-Rate naik 100 bps berpotensi tahan laju penurunan bunga kredit

Baca juga: Ekonom: Kenaikan BI-Rate 100 bps berpotensi naikkan biaya dana bank

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Ahmad Wijaya
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |