Jakarta (ANTARA) - Pemilik kendaraan GAC AION S di China, melaporkan adanya gangguan serius yang berpotensi memengaruhi keselamatan berkendara akibat adanya pembengkakan, kebocoran hingga pecahnya sel baterai yang berujung pada hilangnya tenaga kendaraan saat digunakan.
CarnewsChina pada Selasa melaporkan bahwa keluhan tersebut mayoritas berasal dari kendaraan yang telah menempuh jarak antara 150.000 hingga 300.000 kilometer.
Berdasarkan data dari platform pengaduan konsumen 12365auto dan Black Cat, tercatat sebanyak 182 pengaduan hanya dalam kurun setengah bulan.
Baca juga: GAC akan perkenalkan AION UT versi terbaru di GIIAS 2026
Masalah tersebut dikaitkan dengan sel baterai lithium iron phosphate (LFP) berkapasitas 177 Ah, yang dipasok oleh CALB.
Dari sekitar 213.000 kendaraan yang menggunakan komponen tersebut, tingkat temuan gangguan dilaporkan mencapai 4,7 persen.
Meningkatnya perhatian publik, termasuk setelah pemberitaan media pemerintah Tiongkok Xinhua, mendorong GAC AION dan CALB menyampaikan permintaan maaf pada 18 Juli 2026.
Baca juga: GAC telah memproduksi total 30 juta kendaraan secara global
Kedua perusahaan juga mengumumkan langkah penanganan berupa perpanjangan garansi baterai, hingga delapan tahun atau 300.000 kilometer bagi kendaraan yang terdampak.
Selain itu, pemilik kendaraan dijanjikan inspeksi dan penggantian baterai tanpa biaya apabila ditemukan kerusakan.
GAC AION juga menyatakan akan memberikan subsidi kepada konsumen yang kendaraannya harus menjalani perbaikan lebih dari lima hari, sementara CALB menyediakan layanan pemeriksaan dan perawatan gratis.
Baca juga: Hingga Juni 2026, 10.000 lebih mobil listrik GAC digunakan pelanggan di Indonesia
Sejumlah analis industri menilai kasus ini bukan sekadar persoalan individual, melainkan mengindikasikan kemungkinan adanya cacat manufaktur yang bersifat sistemik.
Dugaan penyebabnya, meliputi desain sistem elektrolit yang kurang optimal, presisi proses perakitan yang tidak konsisten, hingga pengujian umur pakai baterai yang dinilai belum memadai.
Baca juga: GAC kini produksi taksi terbang tanpa pilot seharga Rp4,5 miliar
Dari sisi finansial, dampaknya diperkirakan tidak kecil. Sebagai gambaran, sengketa baterai antara VREMT milik Geely dan Sunwoda sebelumnya berujung pada penyelesaian senilai 2,314 miliar yuan, atau sekitar Rp5,2 triliun.
Karena kasus GAC AION disebut melibatkan jumlah kendaraan yang lebih besar, biaya penanganannya diperkirakan berpotensi melampaui angka tersebut.
Baca juga: GAC Aion hadirkan N60 seharga Rp276 juta dengan teknologi LiDAR
Baca juga: GAC akan meluncurkan Aion RT Battery Swap Version pada 8 April
Pewarta: Chairul Rohman
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
















































