Jakarta (ANTARA) - Direktur Utama (Dirut) PT Pupuk Indonesia (Persero) Rahmad Pribadi mengungkapkan Indonesia memiliki peluang untuk bisa menjaga kestabilan ketahanan pangan regional di tengah ketegangan geopolitik dunia.
"Saya ingin menyampaikan kepada kita semua, kita seringkali beranggapan ketika terjadi gejolak dunia, Indonesia dianggap rentan. Tapi saya ingin menegaskan bahwa dalam konteks pupuk, kita kebalikannya. Justru Indonesia menjadi peluang, mempunyai peluang untuk bisa menjaga kestabilan ketahanan pangan regional. Karena ketahanan pangan regional itu penting," ujar Rahmad di Jakarta, Kamis.
Menurut dia, ketahanan pangan regional dengan nasional itu bukan dua hal yang dibenturkan, tetapi dua hal yang saling mendukung.
"Oleh karenanya, Indonesia diminta untuk apa, mendukung sektor pertanian yang ada di negara-negara yang merupakan negara-negara penting sebagai sumber dari produk agriculture. Misalnya Australia, kita mendapatkan gandum dan berbagai macam jenis produk-produk pertanian lainnya. India, kita banyak membeli misalnya kacang tanah dan berbagai macam hal lainnya," katanya.
Dia menyampaikan bahwa pemerintah sudah menerapkan sebuah strategi yang tepat. Karena pupuk adalah critical agro input. Tanpa pupuk tentu tidak bisa berbicara produktivitas pertanian.
Sebagai informasi, PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan kesiapan pasokan dan produksi untuk mendukung rencana ekspor 250.000 ton pupuk urea ke Australia melalui skema government-to-government (G2G) di tengah disrupsi rantai pasok dunia akibat perang di Timur Tengah.
Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan perusahaan sebenarnya memiliki kapasitas produksi urea sebesar 9,4 juta ton per tahun.
Namun, ia mengatakan perusahaannya memprediksi realisasi produksi mencapai 7,8 juta ton pada tahun 2026, dengan kebutuhan domestik diproyeksikan sebesar 6,3 juta ton, sehingga stok pupuk urea nasional dipastikan aman untuk memenuhi kebutuhan petani di seluruh Indonesia.
Rahmad mengatakan lancarnya proses produksi tersebut didukung oleh ketersediaan bahan baku utama dari dalam negeri, yaitu gas alam, dengan volume yang memadai serta harga yang relatif stabil.
Ia menilai, kondisi tersebut menunjukkan resiliensi industri pupuk nasional dalam menjaga keberlanjutan produksi, sekaligus membuka peluang ekspor tanpa mengganggu pasokan dalam negeri.
Pewarta: Suharsana Aji Sasra J C
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































