Jakarta (ANTARA) - Muka-muka lelah itu tampak kian pucat dan pasrah. Mereka terpaksa bernapas dengan bantuan tabung oksigen, berjuang bertahan di tengah rasa sakit luar biasa setelah serpihan baja gerbong kereta menjepit hampir seluruh tubuh dan kaki mereka.
Mereka adalah tujuh orang penumpang, sekaligus korban terakhir yang terjebak dalam remukan gerbong khusus perempuan kereta rel listrik (KRL) rute Jakarta–Cikarang, seusai tertabrak kereta api jarak jauh di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Senin, 27 April.
Malam itu situasinya kian mencekam. Hasil observasi Basarnas menyatakan bahwa satu-satunya cara menyelamatkan mereka adalah melalui ekstrikasi berat. Sebuah upaya yang nyaris tak memberi pilihan lain, selain mengangkat gerbong dengan crane. Teknik cutting dan lifting dilakukan dengan presisi tinggi menggunakan alat pemotong hidrolik, untuk membuka ruang dari himpitan material tanpa menggeser posisi gerbong yang berisiko memperparah cedera para penyintas.
Memotong serpihan baja gerbong kereta menjadi beberapa bagian jelas bukan perkara mudah, meski peralatan tersedia. Terlebih, potongan logam itu berhimpitan langsung dengan tubuh para korban yang semuanya perempuan. Bisa dibayangkan rasa ngilu saat tulang kering kaki berhadapan dengan besi yang bergetar, sesekali memercikkan api dari gesekan mesin pemotong.
Petugas berpengalaman dan bersertifikasi internasional seperti Basarnas Special Group (BSG) pun merasakan betapa pelik dan melelahkannya situasi malam itu. Bukan hanya fisik yang terkuras, tetapi juga mental mereka diuji, ketika harus berhadapan dengan isak tangis korban dan kondisi minim oksigen di dalam gerbong yang hancur.
Terbukti, ketika seorang personel Basarnas yang terlatih harus digotong keluar dari gerbong dengan napas memburu. Ia terduduk lesu, sesekali menghirup oksigen dari tabung bantuan untuk memulihkan tenaga yang habis setelah berjam-jam merayap di ruang sempit yang tidak stabil.
Operasi penyelamatan ini dilakukan dengan sistem rotasi yang ketat. Personel Basarnas, dibantu petugas pemadam kebakaran, bertanggung jawab penuh atas proses ekstrikasi. Sementara itu, paramedis dan relawan memastikan kondisi korban tetap stabil, dan alat medis, mulai dari pasokan oksigen hingga cairan infus yang terpasang di pergelangan tangan, berfungsi dengan baik. Di luar stasiun, puluhan ambulans relawan telah bersiaga untuk membawa korban ke rumah sakit terdekat.
Satu persatu korban berhasil dievakuasi dengan penuh kehati-hatian, lalu segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Korban terakhir dari tujuh orang tersebut akhirnya berhasil dikeluarkan dalam kondisi selamat. Ia diketahui bernama Nurul (26).
Seluruh proses ini berlangsung sekitar 10 jam. Hingga akhirnya, pada Selasa pagi, 28 April, Kepala Basarnas sekaligus pemegang komando operasi, Mohammad Syafii, mengumumkan bahwa operasi penyelamatan resmi ditutup.
Tragedi berdarah ini merupakan muara dari rentetan peristiwa di perlintasan sebidang (JPL 85) di kawasan Jalan Ampera, tak jauh dari Stasiun Bekasi Timur. Sekitar pukul 20.55 WIB, sebuah KRL rute Tambun–Cikarang menabrak taksi listrik yang mendadak mogok di tengah rel. Insiden itu menjadi pemicu efek domino yang melumpuhkan perjalanan kereta di sebagian Pulau Jawa malam itu.
Rangkaian KRL yang menabrak taksi kemudian harus dievakuasi dan ditetapkan sebagai perjalanan luar biasa (PLB) dengan kode 5181, karena berhenti berdinas dan berjalan di luar jadwal reguler. Dampaknya, petugas menghentikan KRL lain berkode PLB 5568 yang mengarah ke Cikarang di peron Stasiun Bekasi Timur.
Baca juga: Soroti prosedur keselamatan, pakar beri langkah saat EV mati mendadak
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































