Puslabfor usut dugaan medan listrik picu mesin taksi mogok di rel Bekasi Timur

1 hour ago 3

Jakarta (ANTARA) - Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto menyampaikan bahwa Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) bakal mendalami kaitan antara berhenti beroperasinya mesin taksi Green SM dengan perlintasan rel kereta yang disebut bermuatan listrik terkait kasus kecelakaan kereta di Bekasi Timur.

"Perlu kami sampaikan kepada masyarakat tentang ruang perlintasan sebidang rel kereta api yang itu, bermuatan listrik. Ini akan sangat berbahaya apabila digunakan melewati rel kereta yang memang ada medan magnet dan medan listrik. Nah, ini akan dikaji dari Puslabfor," kata Budi kepada wartawan di Jakarta Pusat, Kamis.

Budi menyampaikan, pendalaman itu perlu dilakukan lantaran taksi listrik itu beralih ke posisi gear parkir (P) saat berada di atas rel.

"Itu tujuannya Puslabfor, apakah ada pengaruh dari medan listrik dan medan magnet tadi, mengakibatkan kematian mesin. Karena ini langsung berubah posisi menjadi posisi gear parkir. Nah ini masih kami dalami," kata Budi.

Budi menambahkan, sopir taksi listrik berinisial RRP dinyatakan negatif mengonsumsi alkohol melalui tes urine. Statusnya pun masih sebagai saksi dalam kasus kecelakaan maut yang menewaskan 16 orang penumpang itu.

"Ya, itu sudah dilakukan (tes urine), tidak (konsumsi alkohol)," kata Budi.

Sebelumnya, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto menyampaikan bahwa sopir taksi listrik Green SM berinisial RRP yang terlibat kecelakaan dengan kereta api di perlintasan sebidang Ampera, Bekasi Timur pada Senin (27/4), baru masuk kerja hari ketiga saat insiden.

“Dari hasil keterangan driver ataupun sopir taksi online yang sudah dimintai keterangan bahwa yang bersangkutan baru bekerja itu semenjak tanggal 25 April 2026,” kata Budi di Monas, Jakarta Pusat, Kamis.

RRP juga mengaku hanya mendapatkan pelatihan singkat selama satu hari sebelum mulai bekerja. Pelatihan tersebut pun hanya sebatas pengenalan fitur dasar mobil listrik.

“Jadi terkait tentang bagaimana mengendarai, cara menghidupkan kendaraan tersebut, ini baru pengenalan dasar itu dilakukan satu hari. Nah, bagaimana menyalakan, mematikan mobil serta cara lampu sein, parkir dan lain-lain. Ini terjadi, ini masih didalami oleh teman-teman penyidik,” kata Budi.

Hingga saat ini, RRP telah menjalani dua kali pemeriksaan pada Selasa (28/4) dan Rabu (29/4). Kendati demikian, statusnya masih sebagai saksi.

Adapun, kecelakaan maut yang terjadi pada Senin (27/4) malam itu menewaskan total 16 orang dan puluhan lainnya luka-luka.

Insiden itu dipicu oleh mogoknya taksi Green SM di tengah perlintasan sebidang akibat gangguan sistem kelistrikan. Mobil tersebut kemudian dihantam oleh KRL yang melintas.

Imbas dari kecelakaan pertama, satu rangkaian KRL tujuan Cikarang terhenti darurat di Stasiun Bekasi Timur.

Dalam posisi berhenti tersebut, rangkaian KRL justru ditabrak dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek.

Baca juga: Polisi sudah periksa 24 saksi kecelakaan kereta api di Bekasi Timur

Baca juga: Polisi: Sopir taksi terlibat kecelakaan KRL baru kerja hari ketiga

Baca juga: Kriminal kemarin, "human error" insiden KRL hingga kasus Andrie Yunus

Pewarta: Redemptus Elyonai Risky Syukur
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |