Jakarta (ANTARA) - Penyelenggaraan Samosir Music International (SMI) 2026 yang berakhir pada 4 Juli 2026 menyisakan kesan mendalam, khususnya bagi musisi keturunan Manado-Batak, Yonatan Pandelaki.
Yonatan yang telah tinggal di Jerman selama 25 tahun mengaku beruntung dapat kembali menapak tilas budaya asal ibunya yang merupakan Boru Simamora, untuk kedua kalinya setelah tahun 2019.
"Ini membawa kembali begitu banyak kenangan, dan saya sangat tersentuh dan terhormat diundang ke tanah air saya," ujar Yonatan dalam siaran pers SMI 2026, di Jakarta, Selasa.
Yonatan juga mengajak putranya yang berusia 16 tahun untuk melihat keindahan kawasan wisata Danau Toba secara langsung. "Sehingga dia tahu dari mana akarnya berasal. Sejauh ini dia sangat menikmati bagian surga ini," kata Yonatan.
Dalam kesempatan tersebut, Yonatan juga membawa rekan musisinya, Stephen Dominic Ellery asal Inggris, yang telah melakukan tur bersamanya di Eropa selama tiga tahun terakhir, untuk tampil mengisi panggung festival tersebut
"Saya berpikir maestro Stephen Dominic Ellery. akan membicarakan pengalaman ini untuk waktu yang cukup lama," ujar Yonatan.
Dalam festival musik internasional Samosir itu, kata Yonatan, mereka berkesempatan berkolaborasi dengan musisi Indonesia dari grup Punxgoaran hingga Viky Sianipar Band, membawakan lagu "Dang Marnamuba Ho" karya Willy Hutasoit.
Yonatan menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat atas kerja keras dalam menyukseskan festival tersebut.
Adapun penampilan pertama Yonatan di SMI pada penyelenggaraan tahun 2019 bersama grup musik asal Jerman, Sons and Preachers.
Sejak awal, kehadiran musisi internasional telah menjadi salah satu daya tarik utama SMI dalam setiap tahun penyelenggaraan Karisma Event Nusantara (KEN).
Tahun ini, penonton setia disuguhkan penampilan enerjik Maite Hontelé y La Novia dari Belanda, permainan musik yang memikat dari Stephen Dominic Ellery asal Inggris, serta kolaborasi musisi dari Jerman, Spanyol, Kuba, dan Venezuela yang membawakan komposisi lintas budaya bersama musisi Batak dan Indonesia.
Suasana semakin semarak ketika para musisi mancanegara tidak hanya membawakan musik khas negaranya, tetapi juga berkolaborasi memainkan lagu-lagu bernuansa Batak.
Perpaduan instrumen modern dengan gondang, hasapi, sulim, dan vokal tradisi menghadirkan pengalaman musikal yang mendapat sambutan meriah dari penonton yang memadati area Open Stage Tuktuk, termasuk wisatawan mancanegara yang larut berbaur dengan masyarakat lokal menyaksikan kolaborasi yang memperlihatkan bagaimana musik mampu melampaui batas bahasa, budaya, dan negara.
Pelaksana Tugas Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) Arditama Nusantara Putra mengatakan kehadiran musisi dari berbagai negara menunjukkan bahwa Danau Toba semakin dikenal sebagai ruang kolaborasi budaya bertaraf internasional.
“Samosir Music International memperlihatkan bahwa Danau Toba memiliki daya tarik yang mampu menghubungkan seniman dari berbagai belahan dunia. Kolaborasi yang tercipta di panggung ini bukan hanya menghadirkan hiburan berkualitas, tetapi juga memperkuat promosi pariwisata Danau Toba melalui pendekatan budaya. Inilah wajah pariwisata yang ingin terus kita dorong, yakni pariwisata yang berkualitas, berkelanjutan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat," kata Arditama.
Inisiator sekaligus Event Director SMI Henry Manik mengatakan harapannya agar SMI dapat terus berkembang sebagai ruang diplomasi budaya yang mampu memperkenalkan Danau Toba kepada dunia, dengan berbagai kolaborasi selalu menjadi ruh dari festival musik tersebut.
"Ketika musisi dari Eropa maupun Amerika Latin memainkan musik bersama seniman Batak, di situlah lahir pengalaman yang tidak bisa ditemukan di tempat lain," kata Manik.
Baca juga: Komisi VII DPR dukung opera Batak perkuat wisata Danau Toba
Baca juga: Sumut perkuat posisi Danau Toba selaku destinasi wisata olahraga dunia
Pewarta: Abdu Faisal
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































