Semarang (ANTARA) - Inovasi AISSA (Artificial Intelligence Solusi Sampah), pengelolaan sampah yang inovatif, adaptif, dan berbasis teknologi di Semarang terpilih sebagai salah satu 30 Exemplary Initiatives pada ajang bergengsi "7th Guangzhou International Award for Urban Innovation 2026".
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti di Semarang, Selasa, mengatakan penghargaan tersebut bukan sekadar simbol prestasi, melainkan pengakuan bahwa arah pembangunan Kota Semarang berada di jalur yang tepat.
"Penghargaan ini adalah pengakuan terhadap kerja bersama seluruh elemen Kota Semarang dalam membangun pemerintahan yang responsif, inovatif, dan berorientasi pada penyelesaian persoalan masyarakat," katanya.
Pengumuman tersebut disampaikan dalam rangkaian "2026 United Cities and Local Governments (UCLG) World Congress", di Tangier, Maroko, akhir Juni 2026.
Dia mengakui prestasi itu semakin mempertegas posisi Kota Semarang sebagai kota yang mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan perkotaan melalui inovasi yang diakui komunitas internasional.
"Guangzhou International Award for Urban Innovation" merupakan salah satu penghargaan paling bergengsi di bidang inovasi perkotaan yang diselenggarakan Pemerintah Kota Guangzhou bekerja sama dengan United Cities and Local Governments (UCLG) dan Metropolis, jaringan kota-kota besar dunia.
Baca juga: BRIN dorong pengembangan PLTSa untuk tangani sampah di wilayah 3T
Ajang tersebut memberikan apresiasi kepada pemerintah kota yang berhasil menghadirkan terobosan nyata dalam menjawab tantangan perkotaan, mulai dari tata kelola pemerintahan, transformasi digital, pelayanan publik, lingkungan hidup, hingga pembangunan berkelanjutan yang sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) Perserikatan Bangsa-Bangsa.
"Kota yang maju bukan hanya yang mampu membangun infrastruktur, tetapi juga yang mampu menghadirkan solusi cerdas bagi kehidupan warganya," katanya.
Pemerintah Kota Semarang terus mendorong transformasi digital sebagai fondasi pelayanan publik yang semakin cepat, transparan, dan efektif.
Menurut dia, pemanfaatan kecerdasan buatan bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi menjadi instrumen untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
"Kami ingin memastikan setiap inovasi benar-benar memberikan manfaat bagi warga. Teknologi harus menjadi alat untuk mempercepat pelayanan, menjaga lingkungan, meningkatkan efisiensi pemerintahan, dan menjadikan kota Semarang semakin nyaman, bersih, dan berdaya saing," katanya.
Guangzhou Award ke-7 mencatat rekor partisipasi tertinggi sepanjang penyelenggaraan dengan 381 inovasi dari 248 kota di 60 negara.
Berbagai inovasi terbaik dunia di bidang kecerdasan buatan, tata kelola digital, ketahanan iklim, hingga pelayanan publik berkompetisi dalam ajang tersebut.
Di tengah persaingan itu, AISSA Kota Semarang berhasil lolos seleksi Komite Teknis yang terdiri atas sembilan pakar internasional.
AISSA merupakan inovasi pengelolaan sampah berbasis AI yang dikembangkan untuk meningkatkan efektivitas pemantauan, analisis, dan penanganan sampah secara terintegrasi.
"Inovasi ini menjadi bagian dari transformasi tata kelola lingkungan yang tengah dijalankan Pemerintah Kota Semarang menuju kota yang lebih cerdas dan berkelanjutan," katanya.
Baca juga: Pemkab Kepulauan Seribu kelola sampah organik lewat inovasi kandang bebek
Baca juga: Kalsel kendalikan sampah organik lewat inovasi Komposnya Forester
Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































