Jakarta (ANTARA) - Kementerian Transmigrasi (Kementrans) Republik Indonesia dan Kedutaan Besar China untuk Indonesia menjajaki kerja sama pembangunan pusat riset pertanian, pendidikan vokasi, dan penguatan ekosistem pangan di Kawasan Transmigrasi Salor, Merauke, Papua Selatan.
Menteri Transmigrasi (Mentrans) M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menyatakan upaya tersebut bertujuan untuk mendukung swasembada pangan dan meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat Papua.
“China akan memberikan semacam grant atau hibah untuk membangun semacam pusat riset padi karena kita ingin fokus pada swasembada pangan dengan kawasan sentra pangan dan juga sekolah vokasi untuk sektor pertanian,” ucap M. Iftitah Sulaiman Suryanagara dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Kamis.
Ia menuturkan, berdasarkan riset Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Kementrans 2025, terdapat sejumlah faktor yang menjadi tantangan dalam meningkatkan produktivitas pertanian di kawasan transmigrasi tersebut, antara lain masalah bibit, hama, irigasi, hingga sarana jalan usaha tani.
Pemerintah daerah setempat pun mengusulkan adanya pengembangan bengkel alat-alat pertanian di kawasan sentra produksi pangan nasional dengan hamparan sawah lebih dari 60 ribu hektare tersebut.
Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, Kementrans nantinya akan melibatkan sejumlah perguruan tinggi mitra, termasuk Institut Pertanian Bogor (IPB University), dalam mendukung pembangunan ekosistem pertanian di Salor.
“Kami juga nanti akan bekerja sama dengan kampus-kampus mitra yang sudah ditetapkan, salah satunya Institut Pertanian Bogor, untuk mengembangkan sentra pangan yang ada di kawasan transmigrasi di Salor, Papua Selatan,” kata Iftitah.
Duta Besar China untuk Indonesia Wang Lutong menilai Kawasan Transmigrasi Salor memiliki peluang besar untuk mengembangkan sistem pertanian modern dan menjadi kota satelit baru di Papua Selatan.
“Saya sangat terkesan dengan apa yang saya lihat dan dengar hari ini. Ada banyak potensi di sini. Tim ahli pertanian China yang telah mengunjungi wilayah ini juga melihat peluang yang besar untuk pengembangan pertanian,” ujarnya.
Selain peningkatan produksi pangan, ia juga melihat adanya peluang untuk mengembangkan industri pendukung lainnya, salah satunya manufaktur alat produksi dan mesin pertanian.
“Oleh karena itu, kami mendukung pemanfaatan teknologi Tiongkok untuk mendukung pengembangan sektor pertanian di kawasan ini,” imbuh Wang Lutong.
Baca juga: BRIN gandeng Korea Selatan lakukan riset pertanian cerdas
Baca juga: Mendiktisaintek tekankan peranan kampus dalam hilirisasi pertanian
Baca juga: Menteri PPN yakin penguatan riset pacu produktivitas peternakan
Pewarta: Uyu Septiyati Liman
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































