Banyumas (ANTARA) - Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Muhaimin Iskandar mengatakan kolaborasi antarpemangku kepentingan menjadi kunci dalam memperkuat ekonomi berbasis lokal dan mendorong kemandirian masyarakat melalui pengembangan kawasan berbasis ekspor.
"Kolaborasi yang lebih produktif menjadi ekosistem yang mampu menumbuhkembangkan potensi sumber daya alam dan pelaku ekonomi berbasis lokal, sehingga memiliki daya saing yang lebih kuat," katanya saat peluncuran Pilot Project Ekosistem Pemberdayaan Masyarakat Terintegrasi Berbasis Kawasan Ekspor di Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis.
Menurut dia, program tersebut dirancang untuk membangun ekosistem pemberdayaan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir dengan memanfaatkan potensi lokal, khususnya di sektor pertanian, peternakan, dan komoditas ekspor.
Muhaimin mengatakan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat diperlukan untuk mempercepat transformasi ekonomi berbasis kawasan sekaligus mengatasi berbagai kendala yang dihadapi pelaku usaha lokal.
Baca juga: Kemenko: Pemberdayaan masyarakat kunci keluar dari middle income trap
Salah satu tantangan yang dihadapi, kata dia, adalah ketergantungan terhadap bahan baku impor yang masih cukup tinggi, termasuk pada sektor peternakan.
Oleh karena itu, pemerintah mendorong pemanfaatan sumber daya lokal melalui berbagai inovasi, termasuk penerapan ekonomi sirkular.
"Ketergantungan terhadap impor sudah harus diakhiri. Memang tidak mudah mengubah pola yang selama ini bergantung pada barang impor, tetapi kita harus mulai membangun kemandirian dengan memanfaatkan potensi yang kita miliki," katanya.
Ia menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk mewujudkan kemandirian ekonomi karena didukung sumber daya alam yang melimpah. Potensi tersebut perlu diperkuat melalui riset, inovasi, dan pengembangan teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas sektor pertanian dan usaha masyarakat.
Pewarta: Sumarwoto
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































