Jakarta (ANTARA) - Perusahaan BUMN Farmasi PT Indofarma Tbk (INAF) masih optimistis dapat mencatatkan laba bersih pada 2026, meski tertekan oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS) terhadap mata uang Rupiah.
Tekanan terjadi seiring mayoritas sekitar 70 persen bahan baku perseroan didapatkan hasil impor dari berbagai negara lain, yang pembayarannya menggunakan dolar AS.
“Target laba tahun ini kami tetap optimis, walaupun memang ada kondisi pelemahan kurs Rupiah terhadap dolar AS, kemudian kita ketahui bahwa memang pasti akan menaikkan harga pokoknya,” ujar Direktur Utama Indofarma Sahat Sihombing dalam Public Expose di Indonesia Health Learning Institute (IHLI) Bio Farma Group, Jakarta, Kamis.
Seiring dengan itu, Sahat memastikan perseroan akan terus menjalin komunikasi dengan para stakeholders yang berada di luar negeri, terutama pihak vendor pemasok bahan baku.
Selain itu, ia mengatakan perseroan akan melakukan negosiasi supaya harga-harga atau kenaikan harga yang terjadi, masih pada tahap toleransi yang memang perseroan sudah rencanakan.
“Karena memang sumbernya (bahan baku) memang belum ada di dalam negeri, itu menjadi tantangan. Jadi, kita menjalin memanfaatkan hubungan baik dengan mereka, bagaimana mereka tetap bisa mendukung Indofarma di tengah pelemahan Rupiah,” ujar Sahat.
Untuk mengoptimalkan kinerja pada 2026, ia mengatakan perseroan akan memaksimalkan ekspor yang mencatatkan pertumbuhan mencapai 11,9 persen year-on-year (yoy) pada 2025.
Pada 20 Juni 2026, perseroan telah melakukan ekspor produk farmasi ke Afghanistan, dengan sebanyak lima kontainer dari fasilitas produksi perseroan di Cibitung
“Mudah-mudahan kami juga akan nanti mendapatkan kembali order untuk ekspor ke negara Afganistan, atau mungkin memperlebar, memperluas ke negara-negara sekitar Afganistan," ujar dia.
Dalam kesempatan itu, perseroan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang menyetujui Laporan Keuangan (L/K) Tahun 2025.
Sepanjang tahun buku 2025, perseroan membukukan penjualan bersih sebesar Rp151,5 miliar. Meskipun masih mencatatkan rugi, perseroan tercatat menurunkan rugi periode berjalan secara signifikan sebesar 76,7 persen menjadi Rp77,9 miliar dibandingkan Rp334,5 miliar pada tahun 2024.
Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































