Jakarta (ANTARA) - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo akan meninjau fasilitas pengolahan sampah di Ciangir, Tangerang, pekan depan untuk melihat proses pengolahan sampah yang telah dipilah, termasuk sampah organik yang dapat diolah menjadi kompos.
Pramono mengatakan fasilitas di Ciangir itu berpotensi menjadi salah satu alternatif dalam pengelolaan sampah di Jakarta.
“Sampah, dengan pemilahan sampah, kemudian kita akan tinjau juga yang sudah dipisahkan untuk kompos dan sebagainya di Ciangir, karena minggu depan saya akan ke sana, itu juga akan menjadi alternatif baru,” ujar Pramono di Balai Kota, Jakarta, Jumat.
Menurut dia, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta masih mencari cara untuk mengurangi jumlah sampah yang dikirim ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang.
Oleh karena itu, pemerintah mulai mendorong pengolahan sampah dari sumbernya, mulai dari rumah tangga, pasar, hingga tempat usaha.
Selain Ciangir, Pemprov DKI juga tengah menyiapkan kerja sama untuk mengolah sampah menjadi bahan bakar atau waste to fuel. Program ini direncanakan untuk mendukung pengelolaan sampah di Bantar Gebang dan RDF Rorotan.
Baca juga: Pemkot Jakut tangani tumpukan sampah di pesisir Muara Angke
Pramono menyebutkan operasional RDF Rorotan saat ini sudah berjalan lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Pemprov DKI membatasi jumlah sampah yang masuk agar bau yang sempat dikeluhkan warga tidak muncul kembali.
“Dan karena sudah kita tangani lebih baik, memang sekarang ini saya menahan untuk tidak lebih dari 1.000 supaya bau itu tidak ada,” ungkap Pramono.
Selain itu, dia menambahkan keluhan warga terkait RDF Rorotan saat ini juga sudah jauh berkurang, bahkan hampir tidak ada.
Untuk mengurangi sampah yang dibuang ke Bantar Gebang, Pemprov DKI juga membuka peluang bagi berbagai pihak untuk mengelola sampah langsung dari sumbernya, seperti di pasar, rumah tangga, maupun sektor hotel, restoran, dan kafe (horeka).
“Maka dengan demikian, saya sekarang memberikan izin, memberikan persetujuan siapa saja yang akan mengelola sampah, tidak perlu di tempat pembuangan sampah, tapi di ujung, apakah di pasar, apakah di rumah tangga, di horeka dan sebagainya, selama bisa mengurangi sampah yang dikirimkan ke Bantar Gebang, kami setujui,” ungkap Pramono.
Menurut dia, semakin banyak sampah yang diolah sejak awal, maka semakin sedikit sampah yang harus dikirim ke Bantar Gebang. Dengan cara itu, beban pengelolaan sampah Jakarta pun diharapkan dapat berkurang.
Baca juga: Sudin LH Jakbar angkut 60 ton tumpukan sampah di Tambora
Baca juga: Jakut gencarkan pemilahan sampah jelang aturan baru Bantargebang
Pewarta: Lifia Mawaddah Putri
Editor: Rr. Cornea Khairany
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































