Memulihkan lahan pertanian pascabanjir bandang

2 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) - Saat banjir bandang melanda suatu wilayah, perhatian kita biasanya tertuju pada rumah yang rusak, infrastruktur yang runtuh, atau korban jiwa. Ada dampak ikutannya, tanah pertanian tertutup lumpur, berakibat sifat alaminya berubah secara drastis.

Material lumpur didominasi oleh partikel halus (kurang dari 50 mikron), mempunyai porositas rendah, akibatnya mudah memadat. Kandungan bahan organik dan nitrogen sedikit karena lapisan tanah atas yang hitam, kaya bahan organik, terkikis dan dibawa kabur oleh banjir.

Kondisi lumpur yang jenuh air menyebabkan defisit oksigen di dalam tanah, berakibat aktivitas mikroba tanah menurun. Air yang berlebihan juga melarutkan unsur hara, akibatnya nutrisi tanaman berkurang dan siklus hara terganggu.

Setelah air surut, permukaan sawah dan ladang yang berwarna coklat kehitaman, sekarang berwarna kuning kecoklatan, bahkan keabu-abuan, permukaannya mengeras dan retak-retak, serta tanaman mati membusuk.

Di hadapan sawah yang berubah rupa itu, petani tentu bertanya di dalam hatinya: apakah tanah ini masih bisa ditanami kembali?

Mari kita bantu menjawabnya: bisa, tetapi pemulihannya membutuhkan pendekatan ilmiah dan bertahap serta perlu waktu untuk pulih.

Tanah aluvial

Sebagian besar lahan pertanian pada dataran banjir berkembang di atas tanah aluvial, tanah yang terbentuk dari endapan sungai. Ditilik dari usia geologinya, tanah aluvial adalah tanah muda dari zaman Holosen (kurang lebih 11.700 sampai sekarang).

Teksturnya beragam, tergantung pada jenis material yang diendapkan saat banjir, bisa pasir (50 mikron - 2mm), debu (2 - 50 mikron) dan liat (kurang dari 2 mikron). Kandungan hara yang relatif baik dan kapasitas menyimpan air yang cukup tinggi. Kombinasi sifat fisika dan kimia tanah ini menyebabkan tanah aluvial sangat mendukung produksi pangan, sebelum banjir terjadi.

Tanah yang tertimbun lumpur mengalami perubahan besar karena lapisan tanah atas yang semula subur tertutup sedimen baru. Akibatnya, karakteristik fisik, kimia, dan biologi tanah berubah secara drastis.

Tanah menjadi lebih padat karena partikel lumpur halus menutup pori tanah. Aerasi dan kemampuan tanah menyerap air menurun. Kondisi jenuh air membuat tanah miskin oksigen (anaerob), mengganggu pertumbuhan akar serta aktivitas mikroorganisme.

Secara kimia, kadar nitrogen dan bahan organik cenderung menurun, sementara pH dan keseimbangan unsur hara dapat berubah. Keseimbangan alami tanah pun terganggu, sehingga diperlukan waktu dan pengelolaan yang tepat agar tanah dapat pulih kembali sebagai media tanam yang produktif.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |