Washington (ANTARA) - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Senin (2/3) malam, menyatakan bahwa pihaknya tidak akan mengerahkan pasukan darat ke Iran dan menyampaikan bahwa tujuan mereka di Iran nyaris tercapai.
Pada serangkaian unggahan di X pada Senin malam, koresponden Gedung Putih untuk News Nation Kellie Meyer mengatakan dia baru saja berbicara dengan Trump dalam percakapan via telepon selama dua menit.
Dalam reaksi pertama Trump terhadap serangan terhadap Kedutaan Besar AS di Riyadh, seperti dilaporkan Xinhua, Trump hanya menjawab dengan kalimat "Anda akan segera tahu" soal balasan apa yang akan diberikan AS.
Sementara soal opsi penugasan pasukan darat AS, Trump menyebut bahwa hal tersebut kemungkinan tidak perlu.
Saya tidak akan memberikan jawaban pasti mengenai hal itu. Saya rasa, hal itu tidak diperlukan," tutur Trump.
Pernyataan Trump tersebut disampaikan beberapa jam setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan bahwa pemerintahan Trump yakin tujuan mereka di Iran "dapat dicapai tanpa pengerahan pasukan darat".
"Saat ini, fokus kami adalah menghancurkan peluncur rudal balistik persediaan rudal balistik, kemampuan manufaktur rudal balistik, drone serang satu arah dan Angkatan Laut mereka," kata Rubio kepada wartawan di Capitol Hill menjelang pertemuan tertutup para pemimpin kongres pada Seni (2/3)n sore.
Sementara itu, Amir Saeid Iravani, perwakilan tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menyerukan kepada Dewan Keamanan PBB untuk "bertindak tegas, jelas, dan tanpa ambiguitas" dalam merespons serangan AS dan Israel.
Dalam sebuah pernyataan kepada pers, Iravani mengatakan bahwa AS, dengan koordinasi penuh bersama Israel, melancarkan serangan militer "kedua yang disengaja dan tanpa provokasi" terhadap Iran, yang menunjukkan "tindakan agresi terencana".
Iravani menuduh AS dan Israel "dengan sengaja menargetkan warga sipil dan infrastruktur sipil", yang mengakibatkan tewasnya 165 pelajar putri di sebuah sekolah di Provinsi Hormozgan, Iran selatan, dan menyebut "tindakan-tindakan ini merupakan agresi, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap kemanusiaan".
Pewarta: Xinhua
Editor: Michael Teguh Adiputra Siahaan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































