Jembrana, Bali (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Jembrana, Bali memantau kondisi warganya yang terdampak perang di wilayah Timur Tengah dengan menjalin komunikasi lewat keluarganya dan KBRI di sejumlah negara.
"Kami sudah berkoordinasi dengan dinas terkait untuk terus memantau kondisi warga Jembrana yang berada di wilayah konflik. Tentu kami berharap mereka semua selamat," kata Ketua DPRD Jembrana Ni Made Sri Sutharmi di Negara, Kabupaten Jembrana, Bali, Selasa.
Pemantauan itu, kata dia, melalui beberapa cara seperti berkoordinasi dengan KBRI dan kementerian luar negeri untuk mengetahui perkembangan terkini, serta berkomunikasi dengan keluarga di Jembrana.
Menurut dia, berdasarkan data dari Dinas Tenaga Kerja Dan Perindustrian, ratusan warga Jembrana bekerja di negara-negara teluk yang dilanda perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.
Baca juga: OJK cermati potensi "outflow" jangka pendek imbas konflik AS-Iran
"Kalau situasi semakin memburuk bisa saja mereka akan dipulangkan. Semua itu menunggu informasi dan keputusan dari KBRI setempat," katanya.
Kepada keluarga dan pekerja migran Indonesia asal Jembrana yang berada di kawasan Teluk, Wakil Bupati Jembrana I Gede Patriana Krisna mengimbau untuk mengikuti arahan dari pemerintah.
Dia mengatakan, Pemerintah Indonesia lewat masing-masing kedutaan besar di negara-negara Teluk terus memantau kondisi warga Indonesia, yang jika terjadi sesuatu akan diinformasikan ke berbagai pihak di tanah air termasuk pemerintah daerah.
Kepala Bidang Penempatan, Pelatihan, Produktivitas dan Transmigrasi Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Jembrana Putu Agus Arimbawa yang dikonfirmasi membenarkan pihaknya terus melakukan pendataan terhadap warga daerah tersebut yang bekerja di Timur Tengah.
Baca juga: Perang AS-Iran, Indonesia hitung dampak lonjakan harga minyak ke APBN
Menurut dia, sebagian besar warga Jembrana bekerja di sektor perhotelan yang tersebar di negara-negara Teluk.
"Kami imbau untuk keluarganya disini segera berkoordinasi dengan kami, jika kerabatnya yang disana memberikan informasi kondisinya darurat," katanya.
Dia berharap, koordinasi dengan lembaga terkait di pemerintah pusat, keluarga di Jembrana serta pihak yang memberangkatkan ke luar negeri, jika terjadi sesuatu terhadap warga Jembrana akan cepat tertangani.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Jembrana Kadek Mirah Ananta Sukma Dewi mengatakan berdasarkan data dari BP3MI, pada 2025 ada 254 warga Jembrana yang bekerja di Timur Tengah.
"Itu yang terdata di BP3MI dan kemungkinan mereka masih disana sesuai durasi kontrak kerja. Kalau di 2026 ada 17 orang," katanya.
Baca juga: Timteng memanas, Wamenhaj: Penyelenggaraan haji masih sesuai rencana
Pewarta: Rolandus Nampu/Gembong Ismadi
Editor: Sambas
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































