Google izinkan situs web tolak kontennya tampil di hasil pencarian AI

3 weeks ago 19

Jakarta (ANTARA) - Google mulai menguji fitur baru yang mengizinkan pemilik situs web memilih untuk menolak menampilkan kontennya dalam hasil pencarian berbasis kecerdasan buatan (AI), termasuk AI Overviews dan AI Mode.

Menurut laporan Engadget, Rabu (3/6) waktu setempat, Google menyatakan fitur tersebut akan hadir dalam Search Console berupa tombol pengaturan yang memberi kendali kepada pemilik situs web untuk menentukan apakah halaman mereka dapat digunakan sebagai sumber dalam pencarian generatif Google.

Uji coba awal tahap akan dilakukan kepada sebagian kecil pemilik situs web di Inggris sebelum diperluas ke pasar global.

Google juga menegaskan bahwa keputusan suatu situs untuk tidak berpartisipasi tidak akan mempengaruhi peringkatnya pada hasil pencarian reguler di luar fitur AI generatif.

Baca juga: Android bisa deteksi penelpon yang menyamar sebagai kontak pengguna

Kehadiran opsi tersebut diduga berkaitan dengan tekanan regulator Inggris. Otoritas Persaingan dan Pasar Inggris (Competition and Markets Authority/CMA) menyatakan aturan baru itu diterapkan karena dominasi Google di pasar pencarian digital sebagai perusahaan dengan status pasar strategis.

Menurut CMA, kebijakan tersebut akan memperkuat posisi penerbit berita dalam bernegosiasi dengan Google terkait penggunaan konten mereka.

Pada Januari 2026, pemerintah Inggris mewajibkan Google menyediakan mekanisme opt-out atau memperbolehkan situs web menolak kontennya digunakan oleh AI agar tercipta perlakuan yang lebih adil bagi penerbit, khususnya media berita.

Google kemudian menyatakan akan mengembangkan fitur yang memungkinkan situs web secara khusus menolak penggunaan kontennya dalam fitur pencarian berbasis AI.

Selain opsi opt-out, Google juga menambahkan sejumlah metrik baru di Search Console. Pembaruan itu memungkinkan pemilik situs melihat halaman mana yang muncul dalam pencarian AI serta negara asal pengguna yang mengakses hasil tersebut.

Google menyatakan akan terus mengembangkan fitur analitik tersebut berdasarkan masukan dari pemilik situs web dan penerbit konten.

Perusahaan juga mengatakan terus berdialog dengan penerbit, kreator, dan regulator untuk memastikan pemilik situs memiliki alat yang memadai dalam menghadapi perubahan perilaku pengguna internet.

Langkah ini hadir di tengah meningkatnya kritik dari industri media terhadap fitur pencarian AI yang dinilai mengurangi kunjungan pengguna ke situs berita. Sejumlah penerbit menilai ringkasan yang dihasilkan AI membuat pengguna tidak lagi mengunjungi sumber asli untuk memperoleh informasi.

Kekhawatiran tersebut semakin menguat setelah Google memperluas kemampuan pencariannya melalui AI Overviews dan AI Mode yang dapat merangkum informasi dari berbagai sumber, serta memproses beragam jenis masukan seperti teks, gambar, video, dokumen, hingga tab peramban.

Sejumlah pelaku industri media menilai perubahan tersebut berpotensi mengurangi trafik pencarian yang selama ini menjadi salah satu sumber utama kunjungan dan pendapatan bagi penerbit digital.

Baca juga: Google batasi Gemini Intelligence hanya untuk ponsel Android premium

Baca juga: Wisata studi robot humanoid picu antusiasme terhadap AI

Baca juga: Nvidia perkenalkan RTX Spark, Chip AI untuk laptop dan desktop

Baca juga: Peretas curi akun Instagram dengan manfaatkan celah chatbot AI Meta

Penerjemah: Farhan Arda Nugraha
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |