BMKG: Dinamika atmosfer picu banjir pada musim kemarau

3 weeks ago 8

Jakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan dinamika atmosfer seperti adanya fenomena gelombang Rossby Ekuator hingga faktor interferensi manusia menjadi pemicu terjadinya bencana banjir di tengah periode musim kemarau nasional.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani saat ditemui di ANTARA Heritage Center Jakarta, Kamis, mengatakan bahwa kondisi cuaca pada masa peralihan menuju kemarau saat ini bersifat sangat kompleks karena dipengaruhi oleh berbagai variasi harian.

"Ada juga terkait dengan gelombang Rossby ekuator, gelombang Kelvin, MJO (Madden-Julian Oscillation), dan sebagainya yang dapat menimbulkan variasi harian," kata dia.

Fathani menjelaskan, indikasi tersebut membuat curah hujan masih tetap berpotensi turun di beberapa wilayah perairan dan daratan Indonesia, meskipun direktorat klimatologi telah mengumumkan masuknya periode kemarau tahun ini.

Hingga akhir Mei lalu, sistem pemantauan BMKG mencatat baru sekitar 24 persen dari total 699 Zona Musim (ZOM) di seluruh wilayah tanah air yang secara resmi telah memasuki masa kemarau, sedangkan sisanya baru menyusul pada bulan Juni.

Lebih lanjut, Fathani memaparkan bahwa dampak penurunan intensitas hujan yang dipengaruhi oleh fenomena El Nino pada dasarnya tidak melanda seluruh wilayah, melainkan umumnya terkonsentrasi di bagian garis khatulistiwa sisi selatan.

Baca juga: BMKG paparkan upaya atasi karhutla & banjir di Sumatera jelang kemarau

Adapun kondisi kemarau dipengaruhi oleh aktifnya fenomena El Nino yang mulai muncul pada akhir April hingga awal Mei 2026. Adapun intensitas El Nino tersebut diperkirakan meningkat dari kategori lemah menjadi moderat pada triwulan III tahun 2026, tepatnya sekitar bulan Agustus, September, hingga Oktober sebagaimana analisis dari tim klimatologi BMKG.

Selain faktor dinamika atmosfer, BMKG juga menyoroti andil besar faktor lokal dan interferensi manusia, seperti masifnya pembangunan kawasan perumahan serta pendangkalan struktur sungai di berbagai daerah.

Alih fungsi lahan dan kerusakan lingkungan tersebut memicu kerentanan baru di mana, menurut dia, guyuran hujan dengan intensitas sedang yang pada masa lalu tidak menimbulkan masalah, kini justru langsung memicu bencana banjir bandang dan tanah longsor.

Penjelasan tersebut sejalan dengan laporan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang mencatat sejumlah daerah dilanda banjir dan tanah longsor akibat tingginya intensitas hujan berapa pekan terakhir.

Peristiwa tersebut terjadi saat sebagian daerah lain menghadapi penurunan curah hujan yang berujung meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.

Direktorat Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB melaporkan salah satunya banjir di Kota Manado, Sulawesi Utara, Jumat (28/5). Ada sebanyak 747 jiwa terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman menyusul bencana banjir yang merendam kawasan permukiman penduduk. Banjir dipicu luapan aliran sungai dan drainase yang tidak mampu membendung tingginya intensitas hujan.

Baca juga: BMKG ungkap hasil analisa pemicu banjir di Mataram

Sementara pada periode yang sama kebakaran hutan dan lahan di Pulau Sumatera masih menjadi salah satu kejadian menonjol. BNPB melaporkan misalnya sampai dengan 1 Juni 2026 dengan total luas lahan terbakar di Sumatera Selatan mencapai 182,54 hektare, Riau 3.474,74 hektare bahkan titik kebakaran terbaru terjadi melanda wilayah Mentok, Bangka Belitung hingga menyasar Kawasan Savana Propok Resort Aikmel kawasan Gunung Rinjani Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |