Akademisi UI teliti peran metabolomik dalam pengembangan propolis

3 hours ago 3
Penelitian propolis selama ini umumnya hanya berfokus pada identifikasi senyawa atau aktivitas biologis tertentu, tanpa mengaitkannya secara menyeluruh dengan faktor spesies lebah, lingkungan, serta jenis pelarut yang digunakan

Depok (ANTARA) - Doktor Ilmu Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (FFUI) Diah Kartika Pratami melakukan penelitian peran metabolomik dan pelarut hijau dalam pengembangan propolis di Indonesia.

"Penelitian propolis selama ini umumnya hanya berfokus pada identifikasi senyawa atau aktivitas biologis tertentu, tanpa mengaitkannya secara menyeluruh dengan faktor spesies lebah, lingkungan, serta jenis pelarut yang digunakan," kata Diah Kartika di Depok, Senin.

Ia mengatakan melalui pendekatan metabolomik berbasis FTIR dan LC-MS/MS, penelitian ini menunjukkan bahwa profil kimia propolis tidak hanya dipengaruhi oleh vegetasi sumber resin, tetapi juga oleh spesies lebah penghasilnya.

Penelitian ini menganalisis 25 sampel propolis lebah tak bersengat yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Hasil analisis menunjukkan variasi yang cukup luas pada rendemen, kandungan fenolik, dan flavonoid. Variasi tersebut dipengaruhi oleh perbedaan spesies lebah dan keragaman vegetasi di setiap lokasi.

Baca juga: UI catat tonggak baru inovasi kesehatan luncurkan Propolisul

Spesies lebah berukuran tubuh lebih besar, seperti Geniotrigona thoracica, yang hidup di wilayah dengan sumber resin yang melimpah, cenderung menghasilkan rendemen propolis yang lebih tinggi

Dari sisi bioaktivitas, kata dia, ekstrak propolis yang diuji menunjukkan aktivitas antioksidan dan antiinflamasi yang kuat. Uji berbasis sel memperlihatkan kemampuan ekstrak propolis dalam menurunkan mediator inflamasi seperti TNF-α, iNOS, dan Nitric Oxide (NO).

Penelitian ini juga membandingkan Ekstrak Etanol Propolis (EEP) dengan ekstrak propolis menggunakan NaDES. Beberapa formulasi NaDES, khususnya berbasis Kolin Klorida, Asam Laktat, dan Propilen Glikol, menunjukkan aktivitas biologis yang lebih tinggi dibandingkan ekstrak etanol.

“Aktivitas bioaktif propolis tidak berasal dari satu senyawa tunggal, melainkan merupakan hasil kerja sinergis dari berbagai senyawa yang saling melengkapi melalui mekanisme yang berbeda," katanya.

Baca juga: Ini bedanya madu, propolis, royal jelly, dan bee pollen

"Melalui pendekatan metabolomik, kami juga berhasil mengidentifikasi senyawa penanda yang berkorelasi dengan aktivitas antioksidan dan anti-inflamasi, serta menunjukkan perbedaan profil senyawa antara ekstrak etanol dan ekstrak berbasis Natural Deep Eutectic Solvent," tambahnya.

Meski hasil yang diperoleh sangat menjanjikan, kata dia, penelitian ini masih berada pada tahap in vitro. Ke depan riset akan dilanjutkan ke tahap uji preklinik, meliputi uji keamanan dan uji farmakodinamik sebagai imunomodulator menggunakan hewan coba, agar temuan ini memiliki relevansi klinis yang lebih kuat.

Berkat hasil penelitian disertasinya ini yang berjudul “Pendekatan Metabolomik untuk Pengembangan Metode Ekstraksi Propolis Lebah Tak Bersengat dengan Natural Deep Eutectic Solvent (NaDES) Guna Meningkatkan Aktivitas Antioksidan dan Anti-Inflamasi”, Diah Kartika Pratami berhasil meraih gelar doktor FFUI.

Baca juga: Mengenal propolis lebah, nutrisi dan manfaat bagi kesehatan

Pewarta: Feru Lantara
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |