Stabilitas domestik perkuat diplomasi RI di tengah dunia multipolar

12 hours ago 3
Negara yang konsisten, jelas sikapnya, dan bisa diandalkan, akan senantiasa dihormati dan dijadikan mitra

Jakarta (ANTARA) - Dunia terus bergerak. Setiap hari, keseimbangan kekuatan global berubah.

Negara yang kemarin tampak stabil, bisa tiba-tiba goyah karena perang dagang, krisis energi, atau tekanan geopolitik. Stabilitas bukan warisan. Ia harus dirawat, dijaga, dan dibangun melalui kerja nyata.

Indonesia, dengan sejarah diplomasi yang panjang sejak era Bung Karno, tentu belajar dari dinamika tersebut. Diplomasi bukan sekadar bicara di meja perundingan. Ia juga tentang kemampuan membaca tren, memahami kepentingan negara lain, serta memanfaatkan peluang untuk memperkuat diri sendiri.

Pakar hubungan internasional Joseph Nye dari Harvard University menekankan pentingnya konsep soft power. Menurut dia, kekuatan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh aspek militer maupun ekonomi, tetapi juga reputasi, budaya, dan kemampuan menarik simpati global. Indonesia memiliki modal itu -- mulai dari Pancasila, keragaman budaya, hingga posisi strategisnya di Asia Tenggara.

Namun, soft power saja belum cukup. Dibutuhkan pula stabilitas dalam negeri yang menjadi fondasi agar negara tidak mudah terombang-ambing oleh arus global yang deras. Ketahanan ekonomi, sosial, politik, hingga budaya menjadi pilar utama dari stabilitas tersebut.

Dalam konteks ketahanan ekonomi, cadangan devisa yang cukup dan diversifikasi ekspor memungkinkan Indonesia menahan guncangan pasar global. Saat harga komoditas turun atau arus modal bergeser, negara tidak terpaksa mengorbankan kepentingan strategisnya.

Ketahanan politik juga krusial. Dengan politik domestik yang stabil, Indonesia bisa menentukan arah kebijakan luar negeri secara mandiri tanpa terjerat tekanan yang merugikan. Diplomasi, dalam konteks ini, menjadi alat untuk menjaga ketahanan politik tersebut.

Ketahanan sosial menjadi pondasi lain yang tak kalah penting. Ketika masyarakat merasa aman, suaranya dihargai, dan hak-haknya terpenuhi, negara bakal memiliki ruang manuver lebih luas. Minimnya konflik domestik sekaligus memperkuat posisi tawar Indonesia di mata dunia.

Selain itu, ketahanan budaya ikut pula mendukung stabilitas nasional. Dengan menjaga nilai-nilai lokal, bahasa, dan identitas nasional, Indonesia bisa menunjukkan bahwa modernisasi tidak harus membuatnya kehilangan pijakan. Nilai-nilai budaya ini juga memperkuat soft power di tingkat global.

Di era digital kiwari, aspek ketahanan juga mencakup teknologi dan informasi. Negara harus mampu melindungi data, infrastruktur penting, dan informasi publik dari ancaman global. Tanpa perlindungan ini, stabilitas domestik bisa terganggu dan kapasitas diplomasi menurun.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |