Jakarta (ANTARA) - Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan bahwa pelindungan anak di ruang digital harus dilaksanakan bersamaan dengan upaya untuk menumbuhkan kembali budaya-budaya di Indonesia.
“Child online safety (ruang digital ramah anak) itu memang harus berbarengan kerjanya dengan menumbuhkan kembali budaya-budaya di Indonesia, termasuk nonton film dan ke bioskop,” ujarnya dalam keterangan pers yang diterima dan dikonfirmasi di Jakarta pada Kamis.
Hal itu dikatakan Meutya dalam audiensi bersama Badan Perfilman Indonesia di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat beberapa waktu lalu.
Baca juga: Psikolog ingatkan dampak buruk dunia digital terhadap emosi anak
Ia mengungkap bahwa tingkat kecanduan menjadi salah satu indikator risiko yang ada di dalam PP TUNAS.
Menurutnya, kecanduan untuk menonton konten pendek dengan jumlah banyak atau infinite scrolling membuat orang-orang kesulitan menonton konten yang lebih panjang seperti film.
Maka dari itu, ia menilai bahwa budaya menonton film dengan durasi satu hingga dua jam perlu dihidupkan kembali di kalangan anak-anak muda.
Baca juga: Kemkomdigi verifikasi 14 layanan Apple pastikan keamanan bagi anak
“Dari infinite scrolling di mana orang nonton konten pendek dengan jumlah yang banyak, saya rasa menonton film satu sampai dua jam itu juga menjadi budaya yang perlu dihidupkan kembali di kalangan anak-anak muda kita yang mungkin sekarang untuk nonton lebih dari setengah jam saja sudah agak kelelahan,” ujar Meutya.
Meutya menggarisbawahi bahwa PP TUNAS tidak hanya berfungsi untuk melindungi anak-anak, tetapi juga dapat mendukung berbagai macam industri, termasuk industri penyiaran.
“Dengan kita melindungi anak-anak, banyak industri yang justru bisa kita bantu dukung kembali. Industri penyiaran karena anak-anak sekarang sudah jarang sekali menonton TV, industri cetak supaya anak-anak baca lagi buku, supaya anak-anak nonton lagi film dengan waktu yang cukup panjang agar konsentrasi mereka terlatih,” imbuh Meutya.
Baca juga: Menkomdigi: Ekonomi digital bermakna jika anak tumbuh berbudaya bangsa
Meutya menilai bahwa hal tersebut menjadi alasan mengapa perusahaan-perusahaan global bersemangat untuk mematuhi PP TUNAS karena pada akhirnya perbaikan yang mereka lakukan akan membuat industri menjadi lebih sehat.
“Perusahaan-perusahaan global cukup bersemangat untuk comply dan melihat apa yang mereka bisa lakukan untuk mendukung anak-anak, tidak hanya di Indonesia, tapi di dunia, karena upaya ini akan menghasilkan industri yang sehat,” tandasnya.
Baca juga: Menkomdigi: PP Tunas tak gantikan peran orang tua dan guru
Baca juga: Komdigi libatkan guru perkuat perlindungan anak di ruang digital
Pewarta: Maria Rosari Dwi Putri
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
















































