Kediri (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kediri, Jawa Timur menyiapkan lahan seluas 65 hektare sebagai kesiapan infrastruktur dan fasilitas pendukung layanan haji menyusul rencana Bandara Internasional Dhoho mulai melayani embarkasi haji pada 2027.
"Dalam jangka panjang Pemerintah Kabupaten Kediri bahkan menyiapkan lahan seluas 65 hektare yang berada sekitar satu kilometer dari Bandara Dhoho untuk mendukung pengembangan fasilitas pelayanan haji," kata Wakil Bupati Kediri Dewi Mariya Ulfa dalam keterangannya di Kediri, Kamis.
Pihaknya juga telah ikut rapat koordinasi membahas kesiapan teknis dan operasional embarkasi haji, meliputi infrastruktur bandara, aksesibilitas, kebutuhan sumber daya manusia, skema operasional penerbangan, hingga mitigasi risiko.
Dalam pembahasan di Surabaya tersebut, Bandara Dhoho menjadi salah satu opsi embarkasi haji bagi sekitar 10 hingga 12 kabupaten/kota di kawasan Mataraman.
Baca juga: Menteri Haji kaji Bandara Dhoho jadi embarkasi haji Jawa Timur
Dewi menjelaskan berbagai infrastruktur penunjang terus dipersiapkan, mulai dari jalan nasional, jalan provinsi, jalan kabupaten, hingga akses jalan tol menuju Bandara Dhoho Kediri yang ditargetkan rampung pada akhir 2026.
Selain itu, layanan kesehatan di sekitar kawasan bandara juga mulai dipersiapkan untuk mendukung pelayanan jamaah haji.
Pemerintah Kabupaten Kediri juga menyiapkan dukungan akomodasi berupa sekitar 10 hotel di wilayah Kabupaten dan Kota Kediri dengan kapasitas mencapai 748 kamar.
Kementerian Haji dan Umrah menyatakan pemerintah tengah mengkaji pemanfaatan Bandara Dhoho Kediri, sebagai embarkasi haji untuk mengurangi kepadatan di Bandara Juanda dan Asrama Haji Surabaya.
Baca juga: Kemenhaj kaji embarkasi haji tanpa asrama di Dhoho Kediri
Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia Mochamad Irfan Yusuf mengatakan pemanfaatan bandara tersebut juga diharapkan dapat mengurangi beban operasional Asrama Haji Surabaya serta kepadatan di Bandara Internasional Juanda yang selama ini menjadi embarkasi utama jamaah haji asal Jawa Timur.
Menurut dia, Jawa Timur pada musim haji 2026 memberangkatkan sebanyak 116 kelompok terbang (kloter), sehingga aktivitas di Asrama Haji Surabaya berlangsung hampir tanpa henti selama proses pemberangkatan maupun pemulangan jamaah.
Tingginya intensitas pelayanan bahkan berdampak pada kondisi petugas, salah satunya Kepala UPT Asrama Haji Surabaya yang sempat menjalani perawatan di rumah sakit karena padatnya aktivitas selama operasional haji berlangsung.
Gus Irfan, sapaan akrabnya menegaskan penambahan embarkasi haji harus mengedepankan kenyamanan, keamanan, dan efisiensi pelayanan bagi jamaah.
Baca juga: Menhaj dorong konektivitas umrah dari Jawa Timur
"Kesiapan sarana prasarana, SDM, regulasi, hingga simulasi operasional menjadi hal penting sebelum embarkasi baru mulai dioperasikan," kata dia.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menambahkan Embarkasi Bandara Dhoho diproyeksikan melayani sekitar 10.548 calon haji yang berasal dari 15 kabupaten/kota di Jatim, yakni Kabupaten Kediri, Kota Kediri, Kabupaten Blitar, Kota Blitar.
Selain itu juga Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Madiun, Kota Madiun, Kabupaten Magetan, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Pacitan, Kabupaten Ngawi, Kabupaten Jombang, dan Kabupaten Bojonegoro.
"Bandara Dhoho ini sudah lama kami persiapkan untuk memperkuat layanan penyelenggaraan ibadah haji sekaligus memberikan kemudahan bagi jamaah, khususnya dari wilayah Mataraman. Kami berharap proses keberangkatan maupun kepulangan jamaah akan semakin efektif dan nyaman," kata Gubernur Jatim.
Baca juga: Khofifah targetkan Embarkasi Bandara Dhoho beroperasi pada 2027
Pewarta: Asmaul Chusna
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
















































