Pemerintah kembangkan ekosistem sastra melalui program MTN

3 hours ago 2

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kebudayaan mengatakan bahwa pemerintah mendukung pengembangan ekosistem sastra salah satunya melalui program Manajemen Talenta Nasional (MTN).

"Kita menjadikan sastra ini salah satu bagian dari pengembangan ekosistem bersama dengan Manajemen Talenta Nasional. Sastra tentu tidak akan tumbuh hanya dengan kehadiran para penulis berbakat. Kehidupan sastra akan berkembang ketika seluruh ekosistemnya dapat berjalan dengan baik dari hulu ke hilir," ujar Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat membuka gelaran Sasana Sastra di Jakarta, Kamis.

Ia menjelaskan bahwa ekosistem sastra dapat berjalan dari hulu ke hilir yang dimulai dari proses penciptaan karya atau produksi, penerbitan, distribusi, penerjemah, promosi, ruang apresiasi atau festival hingga terciptanya komunitas-komunitas yang menghidupkan karya sastra.

Baca juga: Puri Kauhan Ubud kembali menggelar Sastra Saraswati Sewana ke-6

Kementerian Kebudayaan sebagai institusi yang baru lahir dua tahun, kata dia, ingin mengambil serta peran dalam memperkuat, menghubungkan dan memperluas dampak dari inisiatif yang sudah dilakukan melalui kebijakan.

Ia mengakui bahwa pihaknya telah menggandeng setidaknya 18 festival sastra di Indonesia melalui konsorsium festival nasional dan mendukung peningkatan apresiasi sastra hingga ke berbagai daerah.

"Kurang lebih ada 3.225 karya sastra terpilih didistribusikan ke masyarakat melalui 35 kantong komunitas sastra yang tersebar di seluruh Indonesia. Tahun 2025 lalu kita juga sudah mendorong regenerasi 7500 talenta sastra melalui mekanisme manajemen talenta nasional di bidang sastra," katanya.

Baca juga: Rumah sastra Ahmad Tohari menjadi ruang pembelajaran masyarakat

Adapun pada 2025, melalui fasilitasi Kementerian Kebudayaan dalam MTN terdapat enam sastra klasik yang diterjemahkan yakni "Of Pain and Sorrow" (Azab dan Sengsara) karya Merari Siregar, "Two Worlds" (Dua Dunia / Keajaiban di Pasar Senen) karya NH Dini, "To Lose a Treasure" (Kehilangan Mestika) karya Hamidah, "Barren Land" (Tanah Gersang) karya Mochtar Lubis, "A Green Paper Letter" (Surat Kertas Hijau) karya Sitor Situmorang, "Ballad of The Beloved People" (Balada Orang-Orang Tercinta) karya W.S. Rendra serta 15 karya kontemporer lainnya.

Pihaknya juga membuka peluang agar sastra Indonesia kian dikenal di kancah global dengan melahirkan penerjemah dan promotor muda yang menjadi rantai penting dari ekosistem ini juga memberikan pendanaan bagi penerjemah untuk penduduk asing yang membeli hak cipta karya sastra nasional.

Baca juga: Karya Asrul Sani jadi media untuk merawat dan majukan kebudayaan

Sastra yang menjadi satu dari sepuluh objek pemajuan kebudayaan diharapkan ke depan bisa dikenal dan banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa asing serta lebih mudah diakses.

Terlebih dengan kekayaan Indonesia sebagai negara megadiversity dengan kekayaan budaya dari Sabang hingga Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote serta 1.340 etnis suku bangsa, 718 bahasa dan tersebar di 17.000 lebih pulau, kekayaan sastra diharapkan terus berkembang dan berkelanjutan.

Baca juga: Badan Bahasa salurkan bantuan pemerintah untuk perkuat sastra daerah

Baca juga: Menbud dukung Gelar Seni Budaya Indonesia MORSA perkuat seni sastra

Pewarta: Sinta Ambarwati
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |