Jakarta (ANTARA) - Ketegangan di industri otomotif kembali memanas, setelah pemerintah Amerika Serikat (AS) menolak izin penjualan kendaraan listrik (EV) merek Polestar mulai model tahun 2027.
Electrek, Kamis (25/6) waktu setempat, melaporkan keputusan tersebut diumumkan Departemen Perdagangan AS melalui Biro Industri dan Keamanan (BIS) berdasarkan aturan baru bernama Connected Vehicle Rule atau Aturan Kendaraan Terhubung.
Aturan yang mulai berlaku pada Januari 2025 itu melarang kendaraan yang memiliki keterkaitan signifikan dengan China atau Rusia untuk dipasarkan di AS.
Larangan tersebut, mencakup penggunaan perangkat lunak yang hadir di model tahun 2027 dan pembatasan perangkat keras pada 2030.
Baca juga: Polestar hadirkan pembaruan perintah suara di kabin kendaraan
Polestar, produsen mobil listrik asal Swedia yang mayoritas sahamnya dimiliki grup otomotif China, Geely, menjadi salah satu perusahaan yang terdampak.
Meski salah satu model andalannya, Polestar 3, diproduksi di Charleston, Carolina Selatan, AS, sementara Polestar 4 dirakit di Busan, Korea Selatan.
Pemerintah AS, menilai kepemilikan perusahaan dan sumber teknologi lebih penting dibanding lokasi perakitan kendaraan.
Kekhawatiran utama Washington adalah potensi pengumpulan data pengguna melalui teknologi kendaraan terhubung, seperti GPS, kamera, mikrofon, Bluetooth, hingga sistem pengemudian otomatis.
Menariknya, keputusan berbeda diterapkan kepada Volvo Cars, yang juga berada di bawah kepemilikan Geely.
Volvo tetap diizinkan menjual kendaraan terhubung di AS karena dianggap memiliki struktur perusahaan dan operasi yang lebih independen.
Baca juga: Polestar janjikan empat model elektrik baru di 2028
Bagi Polestar, dampak finansial diperkirakan tidak terlalu besar. Sekitar 94 persen penjualan ritel perusahaan pada kuartal pertama 2026 berasal dari luar AS, sementara Eropa menyumbang hampir 80 persen dari total penjualan.
Sepanjang 2025, Polestar mencatat penjualan lebih dari 60.000 unit mobil dengan pendapatan melampaui US$3 miliar atau sekitar Rp48,9 triliun (kurs Rp16.300 per dolar AS).
Pada kuartal pertama 2026, perusahaan mengirimkan 13.126 kendaraan, naik 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Keputusan AS terhadap Polestar menjadi sinyal kuat bahwa persaingan geopolitik kini semakin memengaruhi industri otomotif global.
Kebijakan ini juga berpotensi menjadi preseden bagi produsen mobil lain yang memiliki investasi atau rantai pasok berbasis China, di tengah ambisi AS memperkuat industri kendaraan listrik domestiknya.
Baca juga: Polestar bakal tanam fitur Gemini Live di seluruh jajarannya pada 2026
Baca juga: Polestar bocorkan EV terbarunya diproduksi bersama Volvo
Pewarta: Chairul Rohman
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026


















































