Jakarta (ANTARA) - Direktur Utama PT Jababeka Morotai selaku pengelola dan pengembang Kawasan Ekonomi Khusus Morotai Alan Wijaya menyebut Pantai Daloha menawarkan suasana yang tenang dan keindahan pemandangan alam fajar hingga senja bak dalam sinema pada wisatawan.
“Lokasi kami di sini memang cocok untuk mereka yang ingin sejenak menjauh dari kesibukan dan menikmati suasana yang tenang di tengah keindahan alam Morotai," kata Alan dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis.
Pantai yang berada di kawasan Daloha Beach and Dive Resort dan berlokasi di Tanjung Dehegila, Desa Juanga, Kecamatan Morotai Selatan, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara itu memiliki air laut yang jernih yang menguntungkan wisatawan untuk melihat langsung ikan-ikan kecil di perairannya yang dangkal.
Baca juga: Morotai dan awal kebangkitan hilirisasi tuna Nusantara
Pengunjung bisa menikmati pengalaman berlari kecil di tepi pantai, berenang, hingga snorkeling di perairan sekitar Pantai Daloha. Bagi pihak yang ingin snorkeling dapat menggunakan fasilitas penyelaman yang disediakan oleh pihak resort, mulai dari peralatan hingga pemandu berpengalaman yang siap mendampingi selama kegiatan berlangsung.
Sebagai destinasi bahari unggulan, Morotai memiliki sejumlah titik penyelaman yang menawarkan pengalaman berbeda. Di Pulau Mitita, penyelam berkesempatan berenang bersama hiu sirip hitam.
Di perairan sekitar Pulau Wawama, wisatawan dapat melihat Jeep Willys peninggalan Perang Dunia II yang kini menjadi bagian dari ekosistem bawah laut. Sementara di Pulau Dodola, hamparan terumbu karang dan biota laut menghadirkan panorama bawah laut yang memikat.
Baca juga: Status enam Kawasan Ekonomi Khusus segera ditentukan
Sedangkan bagi yang ingin bertualang menikmati alam di sekitar Morotai dapat berkunjung ke Pulau Kokoya, Pulau Kolorai, Pulau Zum-zum, Pasir Timbul, hingga Pulau Dodola yang membuat Morotai dijuluki sebagai Maldives-nya Indonesia.
Pulau Zum-zum memiliki daya tarik sejarah yang kuat karena pernah menjadi tempat tinggal Jenderal Douglas MacArthur dari Amerika Serikat pada masa Perang Dunia II. Di pulau tersebut berdiri patung MacArthur setinggi sekitar 20 meter yang jadi salah satu ikon wisata sejarah Morotai.
Sementara itu, Pulau Dodola menawarkan fenomena alam yang unik. Saat air laut surut, muncul jembatan pasir putih sepanjang ratusan meter yang menghubungkan Dodola Besar dan Dodola Kecil. Momen tersebut menjadi salah satu pemandangan paling ikonik yang dicari pelancong.
Baca juga: Perusahaan di KEK Morotai diharapkan prioritaskan tenaga lokal
Wisatawan yang ingin mencoba aktivitas di darat bisa melakukan trekking menuju Air Terjun Raja – yang punya tujuh jenjang air terjun alami, mengamati berbagai jenis burung endemik yang langka, hingga menelusuri jejak Perang Dunia II yang masih tersimpan di Morotai.
Ada juga Museum Swadaya Perang Dunia II milik Muhlis Eso di Desa Joubela, yang lahir dari kecintaan seorang warga Morotai terhadap sejarah pulau kelahirannya.
Sejak usia muda, Muhlis mengumpulkan berbagai peninggalan Perang Dunia II yang ia temukan di hutan, pesisir pantai, hingga pulau-pulau kecil di sekitar Morotai. Mulai dari peluru, perlengkapan militer, lencana, botol minum tentara, hingga berbagai artefak yang menjadi saksi bisu pertempuran di kawasan Pasifik.
Baca juga: Pemerintah bangun area latihan perang taraf internasional di Morotai
Baca juga: Kacang pandanga morotai masuk kekayaan intelektual komunal
Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































