Kabupaten Tangerang (ANTARA) - Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Republik Indonesia meminta agar masyarakat yang berada di sekitar kawasan TPA Jatiwaringin, Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, untuk menghindari paparan asap kebakaran di lokasi tersebut.
Hai ini diingatkan, seiring memburuknya kualitas udara yang disebabkan terjadi konsentrasi partikulat halus di lokasi mencapai sekitar 1.000 mikrogram per meter kubik, jauh melampaui baku mutu harian nasional sebesar 55 meter kubik.
"Kami sampaikan tentu pada masyarakat yang berada di lokasi sekitar sini agar tetap menggunakan alat pelindung diri, termasuk menggunakan masker agar dampak pada kesehatan mereka bisa tertangani. Ini langkah-langkah kita sekarang," jelas Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup (PPKLH) pada Kementerian Lingkungan Hidup, Rasio Ridho Sani di Tangerang, Kamis.
Ia mengatakan, berdasarkan data pada stasiun pemantauan kualitas udara KLH pada siang hari menunjukkan, paparan polusi udara jenis particulate matter (PM2.5) di TPA Jatiwaringin melebihi ambang batas.
Dimana nilai PM2.5 tercatat mencapai angka 1.000 dari baku mutu seharusnya 55. Sementara untuk PM10, mencapai angka 750 dari baku mutu yang idealnya di angka 75.
Baca juga: KLH tinjau lokasi kebakaran TPA Jatiwaringin, pantau kualitas udara
Selain itu, kata Rasio, pihaknya juga mengukur parameter nitrogen oksida (NOx) dan Sulfur Oksida (SOx) yang timbul akibat kebakaran timbunan sampah di TPA Jatiwaringin.
"Partikulatnya SOx, NOx karena juga di sini yang terbakar di antaranya ada plastik dan sebagainya, tentu plastik kan juga berdampak ke kesehatan," ujarnya.
Menurutnya, polusi udara yang timbul dari kebakaran TPA Jatiwaringin ini lebih parah dibandingkan dengan kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pasalnya, timbunan sampah yang terbakar itu mengandung biomassa dan gas metana.
"Karena dampak kualitas udaranya, pertama dia ada biomassa ada gas metannya kemudian kan ada plastik dan sebagainya," tuturnya.
Oleh karena itu, Rasio mengimbau agar masyarakat yang tidak memiliki kepentingan dalam peristiwa kebakaran TPA Jatiwaringin untuk tidak mendekat ke lokasi kebakaran karena akan sangat berdampak pada kesehatan, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Baca juga: BNPB optimalkan operasi pemadaman darat di TPA Jatiwaringin
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus mengoptimalkan proses pemadaman kebakaran di TPA Jatiwaringin, Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, melalui penyiraman air dari udara dengan menggunakan helikopter water bombing.
"Kita terus mengoptimalkan pemadaman, nanti sore kedua helikopter akan melakukan penyiraman lagi. Jadi, itu upaya-upaya kita untuk menyelesaikan pemadaman di TPU Jatiwaringin," kata Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi BNPB, Brigjen TNI Djohan Darmawan.
Melalui operasi penyiraman air dari udara menggunakan helikopter pengebom air ini akan terus dimaksimalkan guna meminimalkan kobaran api yang masih tersebar di puncak tumpukan sampah tersebut.
"Water bombing baru aktif mulai kemarin. Itu pun belum maksimal hanya sampai 1 jam. Jadi, karena baru digeser, kita maksimalkan," ucapnya.
Selain optimalisasi operasi pemadaman dari udara, BNPB bersama pemerintah daerah Kabupaten Tangerang saat ini juga tengah membuka jalur untuk memudahkan mobil pemadam kebakaran menerobos gunungan sampah hingga bisa mencapai titik api.
"Salah satunya upaya pembuatan jalan terobos, sehingga nanti kendaraan ataupun selang dari rekan-rekan pemadam kebakaran bisa masuk," kata dia.
Baca juga: Tim medis siaga 24 jam antisipasi dampak kebakaran TPA Jatiwaringin
Pewarta: Azmi Syamsul Ma'arif
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































