Makam kerajaan ungkap koleksi satwa liar langka tertua di China

8 hours ago 3

Zhengzhou (ANTARA) - Bangsawan China mungkin telah mengumpulkan koleksi fauna langka mereka sendiri lebih dari 3.000 tahun silam, jauh sebelum kebun binatang kerajaan berkembang di Eropa.

Dalam sebuah konferensi kerja yang diadakan pada Jumat (9/1), tim arkeolog yang bekerja di Reruntuhan Yin di Anyang, Provinsi Henan, China, mengumumkan penemuan apa yang mereka sebut sebagai "kompleks satwa liar hasil peliharaan buatan tertua yang diketahui di China", yang berasal dari Dinasti Shang (1600 SM-1046 SM).

Penelitian tersebut dilakukan setelah kajian terhadap melimpahnya sisa-sisa satwa liar yang ditemukan di lubang-lubang pengorbanan di zona makam kerajaan di Reruntuhan Yin, yang dikenal sebagai situs ibu kota pertama yang terdokumentasi dari Dinasti Shang akhir.

Foto arsip tanpa tanggal ini menunjukkan lonceng perunggu yang digali dari lubang persembahan di zona makam kerajaan Reruntuhan Yin, di Anyang, Provinsi Henan, China. (Xinhua/HO Institut Arkeologi Akademi Ilmu Sosial China)

Dalam 19 lubang berukuran kecil hingga sedang, tim arkeolog menemukan harta karun berupa tulang-belulang satwa, di antaranya kerbau air domestik bertanduk pendek, rusa, serigala, harimau, macan tutul, rubah, kambing gunung, babi hutan, landak, serta sedikitnya lima jenis burung seperti angsa, bangau, soang, elang alap-alap, dan rajawali.

"Satwa-satwa itu kemungkinan besar bukan hasil perburuan acak," ujar Li Xiaomeng, seorang asisten peneliti dari Institut Arkeologi Akademi Ilmu Pengetahuan Sosial China.

"Sebaliknya, hewan-hewan tersebut kemungkinan dipelihara di taman atau tempat penangkaran milik raja-raja Dinasti Shang atau bangsawan tingkat tinggi lainnya."

Petunjuk paling jelas terungkap dari penemuan lonceng perunggu yang terpasang di leher beberapa hewan. Secara keseluruhan, 29 lonceng ditemukan di 13 dari 19 lubang pengorbanan tersebut.

Foto arsip tanpa tanggal ini menunjukkan lonceng perunggu (ditandai dengan angka) di dalam lubang persembahan di zona makam kerajaan Reruntuhan Yin, di Anyang, Provinsi Henan, China. (Xinhua/HO Institut Arkeologi Akademi Ilmu Sosial China)

Niu Shishan, pemimpin proyek penggalian itu sekaligus peneliti di institut tersebut, menilai adanya sistem yang kompleks. "Keberadaan koleksi satwa liar dalam jumlah besar serta perlakuan yang terstandardisasi terhadap hewan-hewan ini menunjukkan adanya jaringan yang mapan untuk memperoleh, membiakkan, dan mengelola satwa liar pada masa Dinasti Shang," ujarnya.

Melalui penelitian multidisipliner, tim itu berhasil mengungkap asal-usul serta praktik pemeliharaan hewan-hewan yang ditemukan di lubang pengorbanan tersebut. "Temuan ini semakin menegaskan kuatnya pengendalian sumber daya dan jangkauan logistik Dinasti Shang," tambah Niu.

Menurut Niu, keberadaan banyak lubang pengorbanan hewan juga mengungkap kemewahan dan kompleksitas ritual keluarga kerajaan Dinasti Shang, sekaligus menunjukkan tingkat kemajuan sistem persembahan hewan pada masa dinasti tersebut.

Anyang, ibu kota terakhir Dinasti Shang, menjadi titik fokus arkeologi yang sangat penting sejak dimulainya penggalian di Situs Reruntuhan Yin pada 1928. Situs ini telah menghasilkan beragam temuan penting, termasuk perunggu-perunggu indah, prasasti tulang ramalan, serta berbagai peninggalan budaya lainnya.

Pewarta: Xinhua
Editor: Junaydi Suswanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |