Surabaya (ANTARA) - Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa mengajak masyarakat meningkatkan kedisiplinan ibadah serta keimanan dan ketakwaan pada peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah, Jumat.
"Dari Isra Mikraj inilah lahir perintah salat lima waktu. Bayangkan, Rasulullah dipanggil langsung ke langit ke tujuh untuk menerima perintah ini. Maka, yang pertama-tama harus kita perbaiki dalam momentum ini adalah disiplin shalat kita," kata Khofifah di Surabaya.
Menurut Khofifah, peristiwa Isra Mikraj merupakan peristiwa monumental dalam sejarah Islam yang sarat makna dan mengandung pesan sosial mendalam.
Ia menilai ritual keagamaan tidak akan berdampak luas tanpa pemaknaan substantif dalam kehidupan sehari-hari.
"Nilai-nilai yang terkandung di Isra Mikraj ini sangat relevan dengan tantangan masyarakat modern. Shalat, misalnya, bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan sarana membentuk keteraturan hidup," katanya.
Disiplin shalat mengajarkan kita untuk menghargai waktu, bertanggung jawab, dan tertib dalam menjalankan peran sosial.
"Di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh distraksi, nilai disiplin ini justru semakin penting. Sehingga, disiplin moral dalam salah mencerminkan kejujuran dan sifat amanah yang dimiliki seseorang," lanjut Khofifah.
Ia juga menekankan bahwa Isra Mikraj merupakan ujian keimanan karena kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW yang melampaui nalar manusia kala itu menuntut kedewasaan dalam mengimaninya.
Menurut dia, keimanan yang matang akan melahirkan sikap saling menghargai di tengah kemajemukan masyarakat.
“Keimanan yang matang akan melahirkan sikap saling menghargai. Orang yang beriman tidak mudah menghakimi atau merendahkan pihak lain. Dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, iman seharusnya menjadi sumber ketenangan, bukan pemicu konflik,” ujarnya.
Mantan Menteri Sosial Republik Indonesia itu menegaskan bahwa hubungan dengan Tuhan tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab sosial.
Ketakwaan, kata dia, harus tercermin dalam perilaku sehari-hari seperti adil, jujur, serta memiliki empati terhadap sesama.
Selain itu, Khofifah menilai Isra Mikraj juga mengajarkan nilai kebersamaan tanpa diskriminasi, sebagaimana tercermin dalam praktik salat berjamaah.
Ia menyebut bahwa kesetaraan dalam saf salat mengandung pesan persatuan yang sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika.
"Dalam shaf shalat, semua berdiri sejajar. Di mana tidak ada perbedaan status sosial, jabatan, maupun latar belakang. Ini pesan kuat bahwa kebersamaan bukan berarti menyeragamkan, tetapi menyatukan langkah untuk tujuan yang lebih besar. Jadi dalam shalat, ada nilai Bhinneka Tunggal Ika yang kita amalkan," tuturnya.
Ia menambahkan bahwa pesan kebersamaan tersebut relevan di tengah masyarakat yang kerap terpolarisasi akibat perbedaan pandangan politik, sosial, maupun keagamaan.
Khofifah berharap peringatan Isra Mikraj tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan, melainkan menjadi momentum refleksi bersama untuk menghidupkan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Seskab Teddy ajak umat jadikan Isra Mikraj momentum meneguhkan iman
Baca juga: Isra Mikraj, warga Jakarta diajak semakin berpihak pada lingkungan
Baca juga: Menag angkat ekoteologi dalam peringatan Isra Mikraj di Istiqlal
Pewarta: Willi Irawan
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































