Urgensi transformasi pesantren di Indonesia

2 weeks ago 8
Pesantren tidak cukup hanya melahirkan ahli agama yang mumpuni, tetapi juga harus mampu mencetak generasi yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi secara mendalam

Jakarta (ANTARA) - Malam itu, 14 April 2026, Cirebon terasa lebih sejuk. Ada tamu istimewa di Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA). Tamu itu bukan orang asing. Ini kunjungan ke-7 bagi sang tamu agung.

Namanya begitu populer. Di kalangan kaum Nahdliyin, siapa tak kenal Kiai Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim. Pendiri dan Pengasuh Amanatul Ummah, Mojokerto. Seorang figur yang telah lama dikenal konsisten mendorong pembaruan pendidikan berbasis pesantren.

Pertemuan itu bukan nostalgia, melainkan dialog yang menyentuh persoalan yang selama ini sering disadari, tetapi jarang dihadapi dengan keberanian bahwa pesantren perlu bertransformasi secara serius dan terukur.

Dalam percakapan yang mengalir tanpa sekat formalitas, ada kegelisahan yang sejujurnya dirasakan banyak orang utamanya kaum Nahdliyin.

Selama ini, Nahdlatul Ulama (NU) dikenal sebagai organisasi dengan basis massa terbesar. Namun, kekuatan itu belum selalu berbanding lurus dengan kualitas infrastruktur layanan publik yang dibangun.

Ketika organisasi massa lain mampu menghadirkan rumah sakit unggulan, universitas berkelas, dan unit usaha yang modern, pesantren sebagai jantung pendidikan NU masih tertinggal dalam hal integrasi keilmuan dan kesiapan sumber daya manusia di bidang strategis.

Persoalan ini menjadi semakin nyata ketika melihat struktur birokrasi dan profesionalisme di tingkat menengah.

Banyak kader NU yang berhasil menembus posisi politik tinggi, bahkan menjadi menteri. Namun, pada level teknokratis seperti direktur jenderal, direktur, hingga jabatan birokrasi teknis lainnya, kehadiran kader dengan latar pesantren masih relatif terbatas.

Kekosongan ini bukan sekadar soal representasi, tetapi mencerminkan adanya kesenjangan kompetensi yang belum sepenuhnya dijawab oleh sistem pendidikan yang ada.

Akar persoalannya tidak sederhana, tetapi salah satu yang paling krusial adalah orientasi pendidikan pesantren yang selama ini cenderung terfokus pada satu dimensi.

Pendalaman ilmu agama tetap menjadi kekuatan utama yang tidak boleh dikompromikan. Namun, dalam konteks perubahan zaman yang begitu cepat, pendekatan ini perlu diperluas.

Pesantren tidak cukup hanya melahirkan ahli agama yang mumpuni, tetapi juga harus mampu mencetak generasi yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi secara mendalam.


Relevansi transformasi

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |