Jakarta (ANTARA) - Pemerintah China diwartakan telah menangguhkan penerbitan izin kendaraan otonom baru menyusul insiden mogok massal lebih dari 100 robotaxi Baidu Apollo Go di jalan-jalan di Wuhan pada Maret 2026 menurut laporan Bloomberg pada Rabu (29/4) berdasarkan keterangan orang-orang yang mengetahui masalah itu.
Mengutip laporan tersebut, Automotive World mewartakan bahwa penangguhan penerbitan izin itu mencegah operator kendaraan otonom untuk menambah kendaraan ke armada mereka, meluncurkan program uji coba baru, atau berekspansi ke kota-kota baru.
Namun, belum disampaikan sampai kapan penangguhan penerbitan izin kendaraan otonom itu akan dijalankan.
Regulator di China memutuskan untuk menangguhkan penerbitan izin kendaraan otonom baru menyusul insiden pada malam tanggal 31 Maret 2026, ketika sejumlah robotaxi Baidu Apollo Go tiba-tiba mogok dan menyebabkan penumpang terlantar di jalanan Wuhan di Provinsi Hubei.
Kejadian itu mendorong tiga lembaga, termasuk Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China, awal bulan ini mengadakan pertemuan dengan pejabat dari kota-kota yang memiliki program percontohan robotaxi atau kendaraan otonom menurut warta Bloomberg yang dikutip dalam siaran CNEV Post.
Regulator meminta pemerintah daerah untuk melakukan peninjauan mandiri secara komprehensif dan meningkatkan pemantauan keselamatan untuk mencegah insiden di Wuhan terulang.
Perwakilan layanan pelanggan Apollo Go mengatakan kepada media lokal China pada saat kejadian bahwa masalah jaringan menyebabkan anomali sistem pengemudian para kendaraan otonom mereka.
Investigasi awal menunjukkan masalah pada kendaraan Apollo Go disebabkan oleh kegagalan sistem menurut pernyataan kepolisian lalu lintas Wuhan.
Baca juga: Robotaksi Baidu mengalami kecelakaan di China
Apollo Go adalah operator robotaxi komersial terbesar di Tiongkok, dengan lebih dari 1.000 kendaraan tanpa pengemudi yang beroperasi di Wuhan saja dan 20 juta perjalanan kumulatif secara nasional hingga Februari 2026.
Saham Baidu turun 2,8 persen di Hong Kong beberapa jam setelah publikasi laporan mengenai penangguhan penerbitan izin kendaraan otonom di China.
Saham perusahaan pengemudian otonom lain di Tiongkok juga turun. Pony.ai mengalami penurunan nilai saham 5,5 persen dan WeRide nilai sahamnya turun 4,7 persen.
Namun, kedua perusahaan tersebut mengkonfirmasi bahwa armada mereka tetap beroperasi normal.
Bisnis layanan kendaraan otonom berkembang pesat di Tiongkok, dengan jumlah kendaraan yang sudah beroperasi mencapai sekitar 4.500 unit di sepuluh kota berbeda pada akhir 2025.
Baca juga: WeRide dan Geely akan merilis 2.000 robotaxi pada 2026
Baca juga: Xpeng perluas pasar, janjikan Robotaxi L4 di China pada 2026
Pewarta: Chairul Rohman
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026


















































