Intensitas erupsi Anak Krakatau menurun, Badan Geologi tetap waspada

3 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tetap mewaspadai aktivitas magma dalam dari Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, meski intensitas erupsinya kini sudah menurun.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, mengatakan aktivitas Gunung Anak Krakatau mulai menunjukkan perubahan setelah mengalami satu episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam pada 4-6 September 2026.

Setelah periode tersebut berakhir, aktivitas permukaan gunung api berangsur melandai dan beralih menjadi erupsi Strombolian.

Namun, berdasarkan hasil evaluasi hingga Jumat ini pukul 06.00 WIB, Badan Geologi Kementerian ESDM tetap mempertahankan status Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga.

Lana menjelaskan setelah episode erupsi menerus berakhir, tercatat sebanyak 14 kali erupsi Strombolian.

"Erupsi Strombolian merupakan salah satu karakteristik aktivitas Gunung Anak Krakatau. Munculnya kembali erupsi Strombolian menunjukkan bahwa episode erupsi menerus telah berakhir. Namun, aktivitas vulkanik masih berlangsung, sehingga masyarakat tetap perlu waspada dan mematuhi rekomendasi yang telah ditetapkan," ujar Lana.

Erupsi Strombolian merupakan erupsi berupa letupan-letupan yang terjadi secara berkala akibat pelepasan gas dari magma.

Aktivitas tersebut dapat menghasilkan lontaran material pijar dan abu vulkanik di sekitar kawah.

Hasil pemantauan Badan Geologi menunjukkan aktivitas gempa permukaan yang terekam melalui gempa frekuensi rendah dan gempa hibrida/fase banyak masih mengalami fluktuasi dengan kecenderungan menurun.

Namun, gempa vulkanik mengalami peningkatan dibanding kondisi rata-rata rekaman gempa Vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Peningkatan gempa vulkanik dalam menunjukkan masih berlangsungnya pergerakan atau suplai magma dari bagian yang lebih dalam.

"Kondisi tersebut membuat potensi terjadinya erupsi kembali masih tinggi, meskipun intensitas erupsi di permukaan saat ini telah menurun," sebut Lana.

Pemantauan tetap berjalan

Di tengah perubahan aktivitas tersebut, lanjut Lana, Badan Geologi memastikan pemantauan Gunung Anak Krakatau tetap berjalan.

Sejumlah peralatan pemantauan memang terdampak akibat aktivitas erupsi, tetapi pengamatan tetap dilakukan melalui stasiun yang masih berfungsi, pengamatan visual, serta parameter pemantauan lainnya.

"Pemantauan Gunung Anak Krakatau tetap dapat dilakukan secara berkelanjutan. Data dari peralatan yang masih berfungsi terus diterima dan dianalisis sebagai dasar evaluasi tingkat aktivitas serta rekomendasi," jelas Lana.

Badan Geologi juga menyiapkan pemeriksaan, perbaikan, dan penggantian peralatan yang terdampak.

Proses tersebut dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi aktivitas gunung api, cuaca, dan keselamatan petugas.

"Keselamatan personel menjadi prioritas. Petugas baru akan diterjunkan setelah kondisi memungkinkan dan seluruh prosedur keselamatan terpenuhi," tegasnya.

Dengan status Level III (Siaga), masyarakat, wisatawan, nelayan, dan pelaku aktivitas pelayaran diminta tidak mendekati atau melakukan kegiatan dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau.

"Potensi bahaya yang perlu diwaspadai meliputi lontaran material pijar, abu vulkanik, serta kemungkinan awan panas di sekitar tubuh gunung," jelasnya.

Masyarakat yang terdampak hujan abu juga dianjurkan menggunakan masker, melindungi mata, menutup sumber air bersih, dan mengurangi aktivitas di luar ruangan saat paparan abu meningkat.

"Karena Krakatau gunung api aktif, maka menurunnya intensitas erupsi di permukaan bukan berarti aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau akan berhenti. Tetap waspada, patuhi radius rekomendasi, dan ikuti informasi resmi pemerintah," terang Lana.

Badan Geologi pun mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terpancing oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dapat diperoleh melalui kanal resmi Badan Geologi dan MAGMA Indonesia.

Baca juga: Ahli: Aktivitas magma GAK masih berlangsung meski seismik turun

Baca juga: Apa yang terjadi di dalam gunung sebelum erupsi? Ini prosesnya

Baca juga: Abu vulkanik bisa bertahan berapa lama setelah erupsi gunung?

Pewarta: Kelik Dewanto
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |