Festival bunga sakura dengan pemandangan gunung Fuji dibatalkan

2 weeks ago 13

Jakarta (ANTARA) - Festival bunga sakura dengan latar belakang pemandangan gunung Fuji, Jepang terpaksa batalkan karena keluhan penduduk setempat terkait wisata yang berlebihan (overtourism).

"Di balik pemandangan indah (Gunung Fuji) terdapat kenyataan bahwa kehidupan tenang warga terancam. Kami merasakan krisis yang sangat kuat," kata Walikota Fujiyoshida, Shigeru Horiuchi dikutip dari Channel News Asia, Jumat.

Demi melindungi martabat dan lingkungan hidup, kata dia, festival yang telah berlangsung 10 tahun itu pun terpaksa dibatalkan.

Adapun lokasi festival berada di taman yang menghadap Gunung Fuji, pohon Sakura, dan pagoda lima lantai. Bahkan kunjungan wisatawan diprediksi masih akan mengalami peningkatan menjelang musim semi.

Baca juga: Lima rekomendasi destinasi untuk menikmati mekarnya bunga sakura

Sebagai obyek wisata yang populer serta ramai dikunjungi, otoritas setempat telah menyiapkan langkah untuk mengelola kunjungan wisata di kota-kota terdekat, membangun penghalang untuk mencegah wisatawan melakukan hal negatif serta membatasi jumlah kunjungan.

Di Fujiyoshida, kunjungan wisatawan asing dikabarkan menyebabkan kemacetan lalu lintas ditambah persoalan sampah puntung rokok yang berserakan serta laporan pelanggaran batas.

Tak hanya itu, wisatawan juga dilaporkan buang air besar di kebun rumah warga. Lebih jauh, keluhan terkait pariwisata juga terjadi di wisata popular seperti Kyoto yakni terdapat wisatawan tidak sopan dituduh mengganggu para penari geisha dengan busana kimono saat wisatawan mengajak untuk berfoto.

Jepang kini menghadapi ancaman dan persoalan serius mengenai tata kelola di sejumlah destinasi pariwisata populer.

Baca juga: Bunga sakura di KBRI Tokyo jadi simbol kuatnya persahabatan RI-Jepang

Baca juga: Melihat lebih dekat festival bunga sakura di Sydney

Baca juga: Bunga sakura mekar paling dini di Kyoto dalam 1.200 tahun

Penerjemah: Sinta Ambarwati
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |