Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menilai Indonesia perlu memanfaatkan momentum KTT BRICS 2026 untuk menggalang investasi dari negara-negara anggota dalam pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT).
Menurutnya, salah satu agenda konkret yang dapat dibawa Indonesia adalah mendorong New Development Bank (NDB), bank pembangunan yang dibentuk oleh negara-negara BRICS, untuk berinvestasi pada proyek EBT Indonesia.
“Indonesia perlu membawa agenda kerja sama bank pembangunan BRICS atau New Development Bank untuk memberikan penanaman saham, bukan utang, ke proyek energi terbarukan,” ujar Bhima kepada ANTARA, di Jakarta, Jumat.
Bhima memberikan contoh, pertemuan KTT BRICS bisa diarahkan untuk mendukung tahap pertama pengembangan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW), dengan sekitar 17 GW di antaranya berpotensi dikerjasamakan dengan NDB.
Indonesia juga dapat menggandeng China dalam kerja sama tersebut, mengingat negeri Tirai Bambu itu memiliki keahlian dalam teknologi komponen panel surya dan baterai.
“Di dalamnya (BRICS) ada China yang punya keahlian teknologi komponen panel surya dan baterai, maka ajak China dan NDB berinvestasi di industri komponen domestik panel surya,” ujarnya.
Selain pengembangan industri komponen panel surya, Bhima menyebut Indonesia juga berpotensi mendorong investasi pada industri midstream dalam rantai hilirisasi nikel, khususnya produksi precursor baterai.
Sebab, produk tersebut dapat dikembangkan untuk mendukung kebutuhan penyimpanan energi (energy storage) bagi pembangkit energi terbarukan.
"Opsi lain adalah memperbesar investasi di mid-stream industry dari hilirisasi nikel yakni precursor baterai untuk storage pembangkit energi terbarukan," kata Bhima.
Lebih lanjut, Bhima menilai kerja sama di sektor energi dapat menjadi salah satu agenda yang memperoleh titik temu di antara negara-negara BRICS karena hampir seluruh negara dalam kelompok tersebut memiliki kepentingan yang sama dalam pengembangan energi.
Adapun KTT BRICS 2026 dijadwalkan berlangsung di New Delhi pada 12-13 September 2026.
BRICS merupakan kelompok negara berkembang yang memiliki peran dalam perekonomian global dan saat ini mencakup Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Mesir, Iran, Ethiopia, Uni Emirat Arab, dan Indonesia.
Baca juga: Menteri keuangan BRICS tolak sanksi perdagangan sepihak
Baca juga: Dubes: BRICS modal bersama Indonesia-India tingkatkan peran global
Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































