Jakarta (ANTARA) - Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan harga dan mutu pangan di Jawa Timur tetap aman dan terkendali menjelang Ramadhan hingga Idul Fitri 2026, guna menjaga pasokan dan keterjangkauan masyarakat.
Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas Andriko Noto Susanto mengatakan untuk mewujudkan hal itu Satuan Tugas Sapu Bersih (Satgas Saber) Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan Provinsi Jawa Timur turun langsung ke lapangan.
"Satgas Saber ini turun ke lapangan ntuk memperkuat pengendalian harga serta pengawasan keamanan dan mutu pangan menjelang Ramadhan dan Idul Fitri," kata Andriko dalam keterangan di Jakarta, Jumat.
Dia menyampaikan langkah itu dilakukan guna memastikan masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan tenang, tanpa dibayangi lonjakan harga bahan pangan pokok.
Ia mengatakan kondisi harga relatif terkendali. Sejumlah komoditas memang mengalami kenaikan, namun masih berada di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) dan Harga Eceran Tertinggi (HET).
Dia menegaskan upaya memonitor, memantau dan mengendalikan harga menjelang Ramadhan dan Lebaran merupakan arahan langsung dari Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
"Jadi sesuai arahan Kepala Bapanas Bapak Andi Amran Sulaiman, tidak boleh ada harga-harga kebutuhan bahan pangan pokok yang lebih dari HET maupun HAP," ucap Andriko saat meninjau Pasar Pucang Anom, Surabaya, Kamis (5/2).
Andriko menegaskan, pemerintah tidak menoleransi lonjakan harga pangan pokok menjelang hari besar keagamaan.
"Harga-harga masih terpantau normal, ada kenaikan tapi masih di bawah HET, masih di bawah HAP, ada beberapa tadi yang di atas HET dan HAP, nanti kita akan telusuri ke distributornya," tambahnya.
Lebih lanjut dia mengatakan pengaturan margin di setiap mata rantai distribusi terus diperkuat agar pedagang eceran tetap memperoleh keuntungan wajar tanpa harus menaikkan harga secara berlebihan.
"Kadang-kadang kan pedagang ini menaikkan karena di distributor naik," jelas Andriko.
Terkait komoditas cabai, Andriko mengakui hambatan distribusi antarwilayah masih menjadi tantangan sehingga berdampak pada dinamika harga di pasaran.
"Ini akan kami perkuat melalui penguatan jaringan distribusi dari daerah surplus ke daerah minus, nanti kita akan telusuri lebih dalam,” kata dia.
Sementara itu, harga Minyakita ditegaskan tetap mengacu pada harga eceran Rp15.700 per liter. Bapanas bersama Perum Bulog akan menambah titik distribusi serta menelusuri penyebab fluktuasi harga di tingkat pengecer yang masih ditemukan di lapangan.
Pada komoditas daging sapi, kenaikan harga dipicu keterbatasan pasokan sapi hidup dari hulu. Meski demikian, harga daging sapi masih berada di bawah HAP.
"Daging tadi kita tanya harganya masih di bawah Rp130.000/kg artinya ada kenaikan tapi masih di bawah HAP, jadi nanti yang kita jaga adalah jangan sampai lebih dari HAP, kalau ada tekanan dari sisi pasokan, itu yang akan kami telusuri ke pemasoknya,” ujar Andriko.
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Evi Ratnawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































