Kairo (ANTARA) - Keputusan Amerika Serikat (AS) untuk menarik diri dari puluhan organisasi internasional akan merugikan negara-negara berkembang dan melemahkan sistem internasional modern, kata seorang pakar politik Mesir.
Dalam wawancara dengan Xinhua, Abu-Bakr Al-Desouky, pakar hubungan internasional dan penasihat editorial majalah International Politics di Al-Ahram Foundation yang dikelola negara Mesir, mengatakan bahwa langkah AS itu akan memotong pendanaan penting bagi banyak organisasi internasional, sehingga memengaruhi operasi mereka di berbagai kawasan berkembang.
"Penarikan diri AS berarti organisasi-organisasi ini akan kehilangan pendanaan AS, yang pasti akan memengaruhi kualitas dan skala aktivitas yang mereka sediakan untuk negara-negara berkembang," kata Al-Desouky. Hal ini akan berdampak sangat negatif terhadap kinerja mereka dan melemahkan kemampuan mereka untuk membantu negara berkembang mencapai tujuan pembangunan, tujuan kemanusiaan, dan program bantuan.
Presiden AS Donald Trump pada Rabu (7/1) menandatangani sebuah memorandum yang mengarahkan Washington untuk menarik diri dari 66 organisasi internasional, termasuk 31 entitas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan 35 entitas non-PBB.
Organisasi-organisasi ini sebagian besar berkaitan dengan sektor-sektor seperti iklim, tenaga kerja, imigrasi, dan energi, termasuk badan-badan PBB penting seperti Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim PBB (UN Framework Convention on Climate Change/UNFCCC), UN Water, UN Energy, dan Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UN Conference on Trade and Development/UNCTAD).
Gedung Putih mengatakan banyak di antara badan-badan ini mendukung kebijakan iklim radikal dan program-program yang bertentangan dengan kedaulatan dan kekuatan ekonomi AS. Dalam pernyataan terpisah, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut entitas-entitas tersebut boros, tidak efektif, atau merugikan.
Al-Desouky menggambarkan penarikan ini sebagai pukulan bagi fondasi sistem internasional kontemporer.
"Ini tindakan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip kemanusiaan dan merusak sistem organisasi internasional modern yang telah menopang dunia selama puluhan tahun," katanya.
Selain kerugian materi, langkah ini juga merusak reputasi global Washington, ujar Al-Desouky.
"Tindakan ini berdampak negatif terhadap citra global AS. Citra Washington sebagai pendukung kebebasan, nilai-nilai liberal, dan hak asasi manusia runtuh demi kebijakan-kebijakan yang cacat dan gagal untuk benar-benar melayani kepentingan AS. Seiring waktu, kebijakan ini bisa berbalik merugikan AS sendiri," ujarnya.
Penarikan diri dari 66 organisasi ini dilakukan setelah sebelumnya Washington mundur dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Perjanjian Iklim Paris, dan Dewan Hak Asasi Manusia PBB (UN Human Rights Council/UNHRC). AS juga sebelumnya memutuskan untuk melarang pendanaan AS di masa depan bagi Badan Bantuan PBB untuk Pengungsi Palestina di Kawasan Timur Tengah (UNRWA).
Keputusan terkait UNRWA memberikan dampak yang sangat serius terhadap lembaga tersebut dengan menghilangkan sumber pendanaan utamanya. Hal ini melemahkan kredibilitas AS sebagai mediator netral dalam proses perdamaian Israel-Palestina," katanya.
Al-Desouky berpendapat bahwa pergeseran kebijakan ini akan mempercepat kemunduran dominasi global AS dan memperkuat seruan untuk tatanan dunia multipolar.
"Menurut pandangan saya, ini mempercepat berakhirnya era hegemoni dan unipolaritas AS," katanya. "Ini memperkuat gagasan multipolaritas internasional karena negara-negara berkembang akan mencari mitra yang lebih kredibel," imbuhnya.
Pakar Mesir itu juga mengatakan bahwa penarikan AS akan berkontribusi terhadap munculnya kelompok-kelompok internasional alternatif.
"Ini akan meningkatkan peran organisasi internasional alternatif dan memperkuat kemunculan kerangka global baru dalam sistem internasional," kata Al-Desouky.
"Organisasi-organisasi yang dipimpin oleh China dan Rusia, seperti Organisasi Kerja Sama Shanghai (Shanghai Cooperation Organization/SCO) dan BRICS, semakin diposisikan sebagai alternatif bagi badan-badan yang dipimpin Barat dan telah disponsori AS dan Eropa selama puluhan tahun," katanya.
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































