Jakarta (ANTARA) - Suku Dinas Sumber Daya Air Jakarta Barat, menyampaikan bahwa pembuatan sodetan dari sebuah proyek perumahan di wilayah Meruya Selatan, Kembangan, merupakan upaya antisipasi genangan, terutama di Komplek DPA dan DPR.
"Pembuatan sodetan itu salah satu jalur alternatif untuk mengatasi genangan di Komplek DPA dan DPR," kata Kepala Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Barat, Purwanti Suryandari di Jakarta, Kamis.
Purwanti mengatakan, genangan berpotensi terjadi imbas pembangunan perumahan yang berada di hilir komplek tersebut sehingga perlu diakali dengan pembuatan sodetan. "Genangan yang diakibatkan oleh pembangunan perumahan di hilir komplek tersebut," katanya.
Hingga kini, pihaknya masih mengukur elevasi saluran yang ada untuk menyesuaikan rancangan sodetan. "Saat ini kami baru melakukan pengukuran untuk melihat elevasi saluran yang ada saat ini," ujarnya.
Warga di kawasan Kavling DKI, Kelurahan Meruya Selatan, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat, menolak rencana pengalihan sodetan atau jalur pembuangan air dari sebuah perumahan yang tengah dibangun di sekitar wilayah mereka.
Baca juga: Jaktim keruk saluran air untuk antisipasi banjir
Baca juga: Banjir di Jalan Daan Mogot Jakarta Barat mulai surut
Ketua RT 04 RW 06 Meruya Selatan, Fajar Aridwianto di Jakarta, Kamis menyebutkan, lokasi perumahan besar itu memiliki ketinggian tanah lebih dari satu meter dibandingkan Kavling DKI sehingga pengalihan sodetan berpotensi menimbulkan banjir di lingkungan permukiman.
“Jadi kalau aliran air masuk ke saluran RT 04, yang terjadi kita berubah dari RT yang kering jadi embung. Air pasti mengalir ke bawah,” kata Fajar.
Ia pun menegaskan bahwa warga pada dasarnya tidak mempermasalahkan adanya pembangunan perumahan di sekitar wilayah mereka.
“Sebenarnya kita tak ada masalah dengan adanya pembangunan. Hanya pada waktu mereka punya rencana untuk melakukan sodetan dari saluran ke sini, makanya kita mempersoalkan," katanya.
Pewarta: Redemptus Elyonai Risky Syukur
Editor: Sri Muryono
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































