Jakarta (ANTARA) - Sepak bola bukan hanya sebuah konteks olahraga yang dimainkan oleh kubu beranggotakan 11 orang pemain menghadapi kubu lawan yang beranggotakan sama untuk bisa mencetak skor terbanyak demi memperoleh kemenangan.
Lebih dari itu, permainan yang kini menurut data World Atlas pada tahun 2025 telah mencapai 3,5 miliar penggemar ini, telah menjadi ruang "medium perdamaian", bukan lagi lapangan perang antar dua kubu tim yang bertanding.
Kita perlu menarik konteks peranan sepak bola ini menuju konteks sosial yang jauh lebih panjang. Setidaknya sejarah telah mencatat sepak bola mempunyai magis yang tidak terbayangkan yakni menghentikan perang antar negara.
Masih ingat dengan Pele? nama pemain legenda Brasil yang masuk dalam salah satu daftar pemain terbaik sepanjang sejarah sepak bola.
O Rei atau Sang Raja, julukan Pele, merupakan manusia yang hingga kini tercatat mengantongi tiga gelar Piala Dunia yang merupakan kompetisi terakbar olahraga di dunia ini.
Namun bukan perkara memenangkan Piala Dunia yang menjadi momen paling mengesankan bagi Pele yang telah berpulang di penghujung tahun 2022 lalu.
Legenda klub sepak bola Brasil Santos ini menyebut bahwa momen paling berkesan dalam karir sepak bola-nya adalah ketika bisa menghentikan perang saudara di Nigeria pada tahun 1969 silam.
"Itu adalah kenangan terbaik. Kami tidak ragu datang ke Nigeria. Santos sangat dicintai. Apalagi, sejak kecil saya selalu didik sepak bola adalah jalan menuju kebaikan," kata Pele.
Pele bersama dengan Santos terbang ke Nigeria untuk menjalankan pertandingan persahabatan menghadapi tim nasional Nigeria. Magis sepak bola membuat pemerintah Nigeria bersama dengan kubu negara bagian Republik Biafra yang tengah berkonflik memutuskan untuk gencatan senjata demi melihat aksi dari O Rei mengolah si kulit bundar.
Laga tersebut berakhir imbang 2-2. Tapi bukan persoalan skor akhir lapangan yang menjadi magis, namun mengenai gencatan senjata yang terjadi selama 48 jam dalam perang saudara yang total telah menelan korban jiwa sekitar dua juta jiwa sejak dimulai pada tahun 1967.
Baca juga: Daftar enam negara Asia lolos otomatis ke Piala Dunia 2026
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































