New York (ANTARA) - Sekitar 50 anggota Staf Gabungan militer Amerika Serikat harus menjalani tes poligraf terkait kebocoran informasi, termasuk mengenai kekurangan amunisi, di tengah konflik melawan Iran.
Seperti dilaporkan The New York Times (NYT), Jumat (4/9), tes poligraf tersebut dilakukan pada Agustus lalu, di mana para perwira militer serta pegawai sipil di Departemen Pertahanan AS ditanyai apakah mereka membocorkan informasi mengenai amunisi kepada media.
Kepada media tersebut, Juru Bicara Pentagon Sean Parnell menolak berkomentar mengenai masalah internal kepegawaian maupun penyelidikan yang sedang berlangsung.
"Namun, kami menganggap semua kebocoran informasi rahasia terkait keamanan nasional sebagai hal yang sangat serius dan kami melakukan penyelidikan sesuai prosedur," kata Parnell.
Baca juga: Caine dan pejabat AS nilai serangan udara tak cukup paksa Iran tunduk
Dalam laporan yang diterbitkan pada Juni lalu, disebutkan bahwa selama berkonflik dengan Iran, Amerika telah menghabiskan hampir seluruh persediaan rudal jelajah siluman,
Selain itu, dilaporkan pula AS telah menembakkan rudal Tomahawk dalam jumlah yang setara dengan pengadaan selama satu dekade di masa damai.
Kemudian, NYT juga memberitakan AS telah menghabiskan kapasitas produksi total rudal Patriot setara dengan kapasitas produksi nasional selama dalam dua tahun.
Pada April lalu, laporan analitis dari Center for Strategic and International Studies menyebutkan AS berisiko menghadapi kekurangan kritis rudal berpemandu presisi dalam konflik skala besar di masa mendatang karena persediaan senjatanya semakin menipis.
Sumber: Sputnik
Baca juga: Trump perintahkan investigasi atas kebocoran informasi stok amunisi AS
Baca juga: Trump sebut AS miliki persediaan amunisi dalam jumlah sangat besar
Baca juga: Media: AS mulai hemat rudal pencegat di tengah konflik Iran
Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
















































