Mayoritas Jepang dukung batasan medsos bagi anak, remaja kurang setuju

2 hours ago 3

Tokyo (ANTARA) -

Mayoritas warga Jepang berusia 15 hingga 39 tahun mendukung pembatasan penggunaan layanan media sosial oleh anak-anak. Namun, tingkat dukungan tersebut paling rendah di kalangan remaja.

Hal itu menunjukkan adanya perbedaan pandangan antargenerasi, menurut hasil survei pemerintah yang dirilis pada Senin.

Dukungan terhadap pembatasan tersebut berada di atas 50 persen pada semua kelompok usia, baik laki-laki maupun perempuan. Namun, dukungan dari perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki, bahkan mencapai lebih dari 70 persen di kalangan perempuan berusia 35 hingga 39 tahun.

Hasil tersebut berasal dari survei berskala besar pertama yang dilakukan oleh Badan Anak dan Keluarga Jepang.

Pada Juli, panel ahli badan tersebut dalam laporan sementara terkait perlindungan anak yang menggunakan media sosial menyatakan bahwa pembahasan terkait kemungkinan penerapan pembatasan penggunaan berdasarkan batas usia yang seragam perlu ditingkatkan.

Hasil survei terbaru itu diperkirakan akan menjadi bahan pertimbangan dalam pembahasan kebijakan tersebut di masa mendatang.

Survei daring yang dilakukan mulai 20 Mei itu melibatkan sekitar 100.000 responden laki-laki dan perempuan berusia di bawah 40 tahun dari seluruh Jepang. Badan tersebut kemudian merilis hasil sementara berdasarkan kelompok usia dan jenis kelamin.

Ketika ditanya apakah penggunaan media sosial oleh anak-anak di bawah usia tertentu perlu dibatasi, 56,4 persen responden laki-laki berusia 35 hingga 39 tahun menjawab "saya rasa perlu" atau "saya agak merasa perlu".

Pada kelompok perempuan dalam rentang usia yang sama, angkanya mencapai 71,7 persen. Kedua kelompok tersebut mencatat tingkat dukungan tertinggi.

Sebaliknya, tingkat dukungan terendah ditemukan pada kelompok responden berusia 15 hingga 19 tahun, yakni 53,2 persen di kalangan laki-laki dan 59,7 persen di kalangan perempuan.

Khusus di antara responden berusia 15 tahun, tingkat dukungan bahkan turun di bawah 50 persen, baik pada anak laki-laki maupun perempuan.

Survei tersebut juga menunjukkan bahwa semakin muda kelompok usia responden, semakin besar kemungkinan mereka mengaku bahwa terkadang mereka merasa tidak nyaman atau rendah diri ketika melihat unggahan media sosial terkait kehidupan orang lain.

Di antara responden berusia 15 hingga 19 tahun, sebanyak 45,4 persen laki-laki dan 58,4 persen perempuan mengatakan bahwa mereka terkadang merasa tidak nyaman terhadap diri sendiri setelah melihat unggahan tentang kehidupan orang lain di media sosial.

Sumber: Kyodo

Baca juga: Survei: 7 persen remaja Jepang diduga kecanduan media sosial

Baca juga: Jepang akan perketat penggunaan medsos bagi remaja

Baca juga: Jepang perketat raksasa teknologi untuk pastikan transparansi

Penerjemah: Katriana
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |