PLN nilai hidrogen andal dan fleksibel dalam pengembangan EBT

1 month ago 15

Jakarta (ANTARA) - PT PLN (Persero) menilai hidrogen memiliki keandalan dan fleksibilitas dalam pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia, termasuk sebagai pembangkit listrik hingga motor penggerak kendaraan ramah lingkungan.

Direktur Teknologi, Engineering, dan Keberlanjutan PT PLN (Persero) Edwin Nugraha Putra di Jakarta, Selasa, mengatakan peran hidrogen dalam sistem tenaga masa depan bukanlah sebagai pesaing baseload, tetapi sebagai penggerak fleksibel untuk penetrasi variabel energi terbarukan (VRE) yang tinggi.

“Hidrogen adalah pembawa energi. Ia memungkinkan sistem tenaga yang aman, andal, fleksibel, dan rendah karbon,” kata Edwin.

Lebih lanjut, ia mengatakan hidrogen juga memiliki penyimpanan jangka panjang, serta melengkapi sistem penyimpanan energi baterai (BESS) untuk durasi lebih dari 10 jam dan memungkinkan penyimpanan musiman, yang tidak ekonomis untuk baterai.

Selain itu, Edwin mengatakan, hidrogen juga berfungsi untuk menggantikan peran pembangkit listrik diesel atau gas.

Ia mencontohkan proyek hidrogen yang tengah dikembangkan di Pulau Rengit di Kepulauan Bangka Belitung, yang merupakan kerja sama PLN dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Proyek itu, menurut dia, ditujukan guna mendukung program dedieselisasi atau pengurangan penggunaan pembangkit listrik berbahan bakar diesel di daerah terpencil.

“Hidrogen juga menggantikan peran pembangkit listrik diesel/gas ketika output VRE rendah, lebih mudah diatur dan lebih andal, serta menjaga keamanan dan keandalan sistem,” ujar Edwin.

Lebih jauh, ia mengatakan hidrogen juga mampu menyerap kelebihan produksi energi terbarukan sebagai H2, yang dapat digunakan kemudian atau diekspor ke industri, sekaligus mendukung industri hijau baru.

Hidrogen dapat digunakan sebagai bahan bakar tambahan di pembangkit listrik gas dan batu bara yang sudah ada sekaligus mengurangi emisi tanpa menunggu aset baru.

Salah satu bentuk aplikasi tersebut adalah fasilitas Green Hydrogen Plant (GHP) di Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang, Jawa Barat, yang dikelola oleh PLN Indonesia Power (IP).

GHP berbasis panas bumi pertama di Asia Tenggara itu memanfaatkan air kondensasi dari produksi listrik untuk menghasilkan hidrogen hijau murni, yang kemudian disalurkan ke Hydrogen Refueling Station (HRS) di Senayan, Jakarta.

“Sehingga di sini kita menghasilkan hidrogen 100 persen dari energi hijau,” kata Edwin.

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |