Jakarta (ANTARA) - PT Pertamina (Persero) memperkuat tata kelola hingga infrastruktur dalam upaya pengembangan ekosistem energi baru dan terbarukan (EBT) hidrogen di Indonesia.
“Kami siap untuk mendukung empat jembatan ke masa depan yaitu regulation, regulatory framework, teknologinya, kemudian permodalan dan juga infrastruktur,” kata Wakil Direktur PT Pertamina (Persero) Oki Muraza di Jakarta, Selasa.
Lebih lanjut, Oki mengatakan langkah-langkah ini memerlukan kerja sama para pemangku kepentingan terkait lainnya, mulai dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) hingga perusahaan energi negara lainnya seperti PT PLN (Persero).
“Untuk infrastruktur, tentunya kami sangat ingin sekali berbagi infrastruktur dan fasilitas nantinya dengan aset bangsa lainnya seperti misalnya dengan PLN, agar kita bisa membuat produksi yang ekonomis,” ujar dia.
Oki mengatakan pengembangan proyek hidrogen oleh Pertamina pun dilakukan melalui penyesuaian karakteristik sumber energi di setiap wilayah di Tanah Air, seperti tenaga surya, panas bumi, hingga biogas.
Ia mencontohkan pengembangan hydrogen hub di Sungai Mangke dan Kuala Tanjung dengan kapasitas 4.000 kilogram per hari.
Lebih jauh, ada juga proyek percontohan produksi hidrogen berbasis tenaga surya di Plaju, Sumatera Selatan dengan kapasitas produksi 20 kilogram per hari, serta fasilitas produksi hidrogen sebesar 100 kilogram per hari yang berasal dari panas bumi di Lampung.
Oki juga menyampaikan bahwa Pertamina mendapatkan dukungan dari Korea Selatan dalam pengembangan teknologi produksi hidrogen dari limbah cair yang memanfaatkan biogas di Jawa Barat.
Selain itu, Pertamina juga tengah menyiapkan tambahan kapasitas produksi hidrogen sebesar 300 ribu kilogram per hari yang terintegrasi dengan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP).
Ia berharap, pengembangan ekosistem tenaga berbasis hidrogen ini dapat berjalan secara berkelanjutan guna mendukung visi ketahanan dan kemandirian energi nasional.
“Mudah-mudahan ekosistem hidrogen ini akan menjadi capaian Indonesia lagi, sebagaimana kemarin yang Pak Menteri (ESDM, Bahlil Lahadalia) resmikan, yaitu (mandatori) biodiesel Indonesia yang mencapai 50 persen (B50),” kata Oki.
Baca juga: KESDM luncurkan Bus Hidrogen Diesel dan koridor hijau Jakarta-Patimban
Baca juga: PLN nilai hidrogen andal dan fleksibel dalam pengembangan EBT
Baca juga: ESDM: Kendaraan hidrogen untuk perjalanan jarak jauh ramah lingkungan
Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































