Jakarta (ANTARA) - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi menyampaikan dukacita mendalam atas meninggalnya seorang ibu yang mengakhiri hidup bersama anaknya yang berusia 5 tahun di Buayan, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.
"Kasus ini tragis dan sangat memilukan. Salah seorang anaknya selamat dan melihat peristiwa tersebut menjadi perhatian kami," kata Menteri PPPA Arifah Fauzi dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Minggu.
KemenPPPA mengapresiasi langkah cepat kepolisian, khususnya Polsek Buayan, yang segera melakukan investigasi kronologis kejadian serta memastikan kondisi anak korban yang selamat.
Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan UPTD PPA Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Kebumen untuk melakukan penjangkauan dan pendampingan awal.
Baca juga: Arifah minta pemda implementasi program PPPA berkelanjutan
Dalam kasus ini, anak pertamanya berinisial AAW (7) tidak turut menjadi korban dan menjadi saksi yang melaporkan peristiwa tragis tersebut.
"KemenPPPA akan memastikan bahwa anak yang masih hidup mendapatkan perlindungan melalui layanan pemulihan dan pendampingan," kata Menteri Arifatul Choiri Fauzi.
Sementara itu, adanya dugaan penelantaran oleh ayah korban juga menjadi perhatian.
Menteri PPPA Arifah Fauzi mengatakan ayah korban dapat dikenakan Pasal 76B UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman pidana paling lama 5 tahun dan atau denda paling banyak Rp100 juta dan atau Pasal 9 ayat (1) UU Nomor 23 tentang KDRT yang hukumannya dibahas dalam Pasal 49a dengan hukuman pidana penjara paling lama 3 tahun dan atau paling banyak Rp15 juta.
Baca juga: Pemerkosaan karyawati, KemenPPPA minta masyarakat tidak sebar konten
Peristiwa mengakhiri hidup seorang ibu berinisial AA (44) dan anaknya (5) terjadi di Kecamatan Buayan, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, pada Selasa (6/1).
Putra sulungnya berinisial AAW (7) berhasil kabur setelah menolak saat diajak mengakhiri hidup oleh ibunya. AAW pun melaporkan kejadian itu ke pamannya.
Sang ibu memilih mengakhiri hidupnya dan anaknya diduga dipicu masalah ekonomi dan mengalami depresi ditinggal suaminya selama dua tahun.
Baca juga: Kekerasan anak oleh ayah alarm rumah masih jadi risiko kekerasan anak
Pewarta: Anita Permata Dewi
Editor: Sambas
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































