Jakarta (ANTARA) - Di tengah kuatnya narasi politik saat ini, ada keputusan yang layak ditulis sebagai "titik balik" sejarah intelektualitas bangsa Indonesia.
Di Istana Negara, 15 Januari 2026, Presiden Prabowo Subianto secara simbolis menyampaikan keberpihakannya pada bidang riset. Di depan sekitar 1.200 cendekiawan, para rektor, profesor, doktor, hingga dekan humaniora --kaum yang meneguhkan diri sebagai the brains of our country-- Presiden menyampaikan pesan tentang pentingnya riset.
Sikap keberpihakan istana itu dapat dilihat sebagai lensa nyata masa depan ilmu pengetahuan.
Presiden Prabowo tidak sedang membangun retorika, tetapi mengeksekusi sebuah keputusan strategis bagi pendidikan nasional.
Dana riset yang sebelumnya Rp8 triliun, seketika "digenapkan" menjadi Rp12 triliun.
Bukan sekadar deretan angka nol, melainkan stimulus bagi inovasi yang selama ini tersengal di ruang laboratorium dan perpustakaan kampus.
Baca juga: Prabowo tambah anggaran riset Rp4 triliun untuk perguruan tinggi
Riset mesin kemandirian
Di hadapan 1.200 intelektual, Presiden Prabowo menyampaikan pesan broadcasttable: Indonesia tidak boleh jadi bangsa peminta-minta. Mandiri adalah harga mati. Swasembada pangan, kedaulatan energi, hingga impian lama tentang mobil nasional bukan jargon kampanye, tetapi harus direalisasikan dalam produk nyata hasil riset.
Penambahan anggaran sebesar Rp4 triliun (menjadi total Rp12 triliun) sinyal bahwa riset bukan "anak tiri" dalam APBN. Riset adalah investasi. Di dunia industri, riset adalah jantung kompetisi.
Tanpa riset, industri hanya perakit barang orang lain. Tanpa riset, pendidikan hanya pabrik yang memproduksi ijazah tanpa inovasi.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































