Jakarta (ANTARA) - Penurunan kelaparan global memberikan alasan untuk optimistis, tetapi sekaligus mengingatkan kita bahwa persoalan pangan belum selesai. Laporan "State of Food Security and Nutrition in the World 2026" menunjukkan bahwa sekitar 645 juta orang masih mengalami kelaparan pada 2025, meskipun jumlah itu turun hampir 14 juta dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun, kerawanan pangan tetap lebih banyak terjadi di wilayah pedesaan dan secara tidak proporsional menimpa perempuan. Pesan penting dari perkembangan ini adalah bahwa ketahanan pangan tidak cukup diukur dari banyaknya pangan yang diproduksi.
Ketahanan pangan juga ditentukan oleh kemampuan masyarakat memperoleh pangan dengan harga terjangkau, keberlanjutan produksi, pendapatan petani, serta ketahanan sistem pangan menghadapi perubahan iklim.
Bagi Indonesia, persoalan ini menjadi semakin strategis. Indonesia mempunyai lebih dari 280 juta penduduk dan beras masih merupakan makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat. Karena itu, peningkatan produksi beras merupakan kabar baik.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada 2025 luas panen padi mencapai sekitar 11,32 juta hektare, meningkat 12,69 persen dibandingkan 2024. Produksi padi mencapai 60,21 juta ton gabah kering giling (GKG), naik 13,29 persen, sedangkan produksi beras untuk konsumsi penduduk mencapai 34,69 juta ton, meningkat 4,07 juta ton atau 13,29 persen dari 2024.
Angka tersebut tentu patut diapresiasi. Produksi beras 2025 bahkan berada di atas kebutuhan konsumsi nasional yang menurut data pemerintah berada di kisaran 31 juta ton.
Baca juga: Saat Bintan memetik harapan dari ladang Kampung Kangboy
Dengan demikian, secara agregat Indonesia memiliki ruang yang lebih besar untuk menjaga cadangan beras dan menghadapi gejolak pasokan. Ini merupakan modal penting bagi ketahanan pangan. Namun, kita tidak boleh berhenti pada kesimpulan bahwa peningkatan produksi otomatis berarti persoalan pangan telah selesai.
Ada perbedaan mendasar antara ketahanan pangan dan swasembada pangan. Swasembada terutama berbicara tentang kemampuan menghasilkan pangan dari dalam negeri. Ketahanan pangan jauh lebih luas. Ia menyangkut ketersediaan, akses, pemanfaatan, kualitas gizi, stabilitas harga, dan kemampuan sistem pangan menghadapi berbagai guncangan.
Sebuah negara dapat menghasilkan beras dalam jumlah besar, tetapi masyarakat berpendapatan rendah tetap dapat mengalami kerawanan pangan apabila harga pangan terlalu tinggi atau pendapatan mereka terlalu rendah. Pengalaman Indonesia sendiri memperlihatkan persoalan tersebut.
Pada 2025, produksi beras meningkat tajam, tetapi harga beras tetap sempat mengalami tekanan. Pada Agustus 2025, harga beras medium dilaporkan mencapai sekitar Rp15.950 per kilogram, naik hampir 5 persen sejak awal tahun dan lebih dari 24 persen dibandingkan awal 2023. Ini menunjukkan bahwa produksi yang tinggi belum tentu langsung menghasilkan pangan yang murah dan mudah diakses konsumen.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































