KESDM luncurkan Bus Hidrogen Diesel dan koridor hijau Jakarta-Patimban

1 month ago 23

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) meluncurkan Bus Hidrogen Diesel Dual Fuel (H2 DDF) sebagai proyek percontohan serta pengembangan Green Hydrogen Corridor atau koridor hidrogen hijau Jakarta–Karawang–Patimban sepanjang 194 kilometer (km) di Jakarta, Selasa.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan kedua inisiatif yang diperkenalkan dalam Global Hydrogen Ecosystem Summit (GHES) 2026 itu menjadi bagian dari pengembangan ekosistem hidrogen untuk memperkuat transisi, kemandirian dan swasembada energi, hilirisasi, serta industrialisasi nasional.

“Pengembangan hidrogen selaras dengan arahan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Hidrogen merupakan energi alternatif yang sangat penting di tengah kondisi geopolitik global yang tidak menentu, seperti konflik di Timur Tengah yang melahirkan ketidakpastian,” ujar Bahlil dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Selasa.

GHES 2026 berlangsung pada 21–23 Juli 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC) serta mempertemukan pemerintah, badan usaha, industri, akademisi, investor, lembaga riset, dan mitra internasional untuk mempercepat pembangunan ekosistem hidrogen nasional.

Menurut Bahlil, ketidakpastian geopolitik mengharuskan setiap negara melindungi kebutuhan energi nasionalnya dengan memanfaatkan keunggulan komparatif masing-masing.

Ekosistem hidrogen yang terintegrasi dari hulu hingga hilir juga dinilai dapat menghasilkan energi bersih, menciptakan nilai tambah di dalam negeri, meningkatkan daya saing industri nasional, menarik investasi, serta membuka peluang kerja dan pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan.

Namun, ia mengakui biaya energi berbasis hidrogen masih belum kompetitif dibandingkan dengan sumber energi lain, termasuk bahan bakar B50.

“Masih mahalnya energi berbasis hidrogen menjadi tantangan untuk kita semua dalam rangka bagaimana mendapatkan teknologi yang lebih efisien agar lebih kompetitif,” ucap Bahlil.

Ia meyakini harga hidrogen akan menjadi lebih kompetitif dibandingkan dengan bahan bakar minyak seiring berlanjutnya konflik dan ketidakpastian geopolitik serta semakin sulitnya memperoleh minyak dari blok-blok baru.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan pengembangan hidrogen diarahkan untuk mendukung dekarbonisasi sektor industri, transportasi, dan ketenagalistrikan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

“Saat ini kami mempunyai 93 inisiatif pengembangan ekosistem hidrogen yang proyek-proyeknya tersebar di seluruh Indonesia dan melahirkan investasi sebesar Rp32 triliun,” ungkap Eniya.

Pemerintah juga mengembangkan proyek hidrogen melalui program dedieselisasi di Sumba yang ditargetkan mencapai tahap operasi komersial atau commercial operation date (COD) pada 2028 serta di Pulau Rote melalui kerja sama dengan PT PLN (Persero).

Program tersebut diproyeksikan menurunkan biaya produksi listrik dari satu dolar AS atau sekitar Rp17.909 menjadi 25 sen dolar AS atau sekitar Rp4.477 per kilowatt jam.

Adapun Bus H2 DDF merupakan bus bermesin diesel milik Perum DAMRI yang dimodifikasi agar dapat menggunakan kombinasi bahan bakar solar dan gas hidrogen.

Program percontohan tersebut dikembangkan melalui kerja sama Kementerian ESDM, PT PLN (Persero), dan Perum DAMRI.

Pelaksanaannya didukung PT Sucofindo (Persero) sebagai lembaga pengujian, inspeksi, dan sertifikasi independen serta PT Tritunggal Prakarsa Global sebagai pelaksana proyek percontohan bus.

Direktur Utama PT Sucofindo (Persero) Sandry Pasambuna mengatakan perseroan bertugas memastikan penerapan teknologi H2 DDF pada bus DAMRI memenuhi aspek keselamatan, keandalan, dan kesesuaian teknis.

“Sebagai perusahaan Testing, Inspection, Certification and Consultation (TICC), Sucofindo berperan sebagai pihak independen yang memastikan implementasi teknologi H2 DDF pada Bus DAMRI memenuhi aspek keselamatan, keandalan, dan kesesuaian teknis,” ujar Sandry.

​​​​​​​Menurut Sandry, proses verifikasi dan penjaminan diperlukan agar teknologi hidrogen dapat diterapkan secara aman, terukur, dan sesuai dengan standar yang berlaku.

Bus H2 DDF dilengkapi 16 tabung penyimpanan hidrogen berkapasitas masing-masing 50 liter dengan tekanan nominal 200 bar dan tekanan kerja 150 bar.

Sistem hidrogen tersebut dipasang pada bus Hino bermesin diesel enam silinder berkapasitas 7.684 sentimeter kubik.

Berdasarkan pengujian Sucofindo, sistem H2 DDF menurunkan emisi opasitas sebesar 57,66 persen, karbon monoksida 45,45 persen, karbon dioksida 39,37 persen, serta nitrogen oksida 21,16 persen.

Bus percontohan tersebut dikembangkan untuk mengurangi penggunaan BBM solar, menggantikan sebagian bahan bakar fosil dengan hidrogen, serta menekan emisi gas buang tanpa harus langsung mengganti seluruh armada yang telah beroperasi.

Baca juga: PLN nilai hidrogen andal dan fleksibel dalam pengembangan EBT

Baca juga: ESDM: Kendaraan hidrogen untuk perjalanan jarak jauh ramah lingkungan

Baca juga: Menteri Bahlil yakin hidrogen dapat saingi EV pada 5-10 tahun ke depan

Pewarta: Aria Ananda
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |