Ambon (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Pangan bersama Universitas Pattimura (Unpatti) Maluku menjajaki pengembangan studi nilai ekonomi karbon laut (blue carbon) sebagai upaya mengoptimalkan potensi pesisir dan laut Indonesia sekaligus meningkatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Menurut Zulkifli di Ambon, Kamis, pengembangan blue carbon menjadi bagian dari agenda pemerintah yang tidak hanya berfokus pada ketahanan pangan, tetapi juga pada penyelesaian persoalan lingkungan melalui skema ekonomi karbon yang terukur dan akuntabel.
"Pemerintah juga mendapat tugas menangani persoalan lingkungan. Kita sedang mengembangkan nilai ekonomi karbon laut atau blue carbon, tentu perlu kerja sama dengan kampus salah satunya Unpatti," katanya.
Blue carbon merupakan karbon yang diserap dan disimpan oleh ekosistem pesisir dan laut, terutama mangrove, padang lamun, dan rawa pasang surut. Ekosistem tersebut mampu menyimpan karbon lebih lama dibandingkan banyak ekosistem daratan sehingga menjadi salah satu instrumen penting dalam mitigasi perubahan iklim sekaligus pengembangan ekonomi berbasis konservasi.
Ia menjelaskan Indonesia memiliki potensi ekonomi karbon yang besar, tidak hanya berasal dari kawasan hutan, tetapi juga dari ekosistem pesisir dan laut seperti mangrove, padang lamun, dan rawa pasang surut yang mampu menyerap serta menyimpan karbon dalam jumlah tinggi.
Karena itu, kata dia, pengelolaan potensi tersebut harus diarahkan agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan, pesisir, dan laut.
Zulhas mengakui perdagangan karbon di Indonesia sebelumnya belum berjalan optimal. Namun pemerintah kini terus mendorong penguatan tata kelola agar mekanisme tersebut dapat menghasilkan nilai ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat tanpa mengabaikan aspek pengawasan.
"Anggarannya banyak, senilai Rp22 triliun. Kalau langsung ke masyarakat atau perseorangan sulit dipantau, oleh sebab itu bersama dengan kampus agar bisa diawasi dan terukur," ujar dia.
Ia menilai perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mendukung pendataan, penelitian, hingga verifikasi potensi karbon sehingga pelaksanaan program dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Penjajakan kerja sama dengan Unpatti, lanjutnya, diharapkan dapat memperkuat kajian mengenai kapasitas penyimpanan karbon pada ekosistem pesisir Maluku yang dikenal memiliki hamparan mangrove dan wilayah laut yang luas.
Melalui pendekatan tersebut, pemerintah ingin memastikan pengembangan ekonomi karbon tidak hanya berkontribusi pada penurunan emisi gas rumah kaca, tetapi juga membuka peluang pendapatan baru bagi masyarakat pesisir melalui pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.
Pewarta: Ode Dedy Lion Abdul Azis
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































