IEA peringatkan risiko keamanan energi imbas ketegangan Timur Tengah

4 hours ago 7

Paris (ANTARA) - Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol mengatakan pada hari Selasa bahwa meskipun pasar minyak global diuntungkan oleh beberapa faktor penyeimbang, perkembangan terkini di Timur Tengah telah meningkatkan kekhawatiran tentang keamanan pasokan energi dan menambah ketidakpastian pada prospek pasar.

Dalam sebuah pernyataan sebagaimana warta Xinhua, Birol menguraikan sejumlah faktor yang mampu meredam tekanan di pasar minyak global. Produsen-produsen di kawasan Teluk telah mempertahankan pasokan dalam jumlah besar, dengan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab melakukan upaya signifikan untuk menjaga aliran minyak ke pasar global melalui jalur alternatif di luar Selat Hormuz.

Menurut perkiraan IEA, ekspor minyak dari kawasan Teluk, meski berada di bawah puncaknya pada akhir Juni, tetap jauh lebih tinggi dibandingkan tingkat ekspor yang tercatat antara awal Maret hingga pertengahan Juni.

Sementara itu, peningkatan ekspor minyak mentah dari Amerika Serikat (AS), Brasil, Venezuela, dan Kazakhstan turut mengimbangi sebagian kekurangan pasokan dari kawasan Teluk.

Pelepasan cadangan minyak strategis secara berkelanjutan oleh negara-negara anggota IEA juga telah membantu meredakan tekanan di pasar. Sejak 11 Maret, negara-negara anggota telah melepas sekitar 290 juta barel minyak ke pasar.

Mereka masih memiliki cadangan darurat dalam jumlah besar, termasuk lebih dari 1 miliar barel yang berada di bawah kendali pemerintah.

Sementara itu, IEA memperingatkan bahwa risiko terhadap keamanan pasokan minyak tidak boleh diremehkan di tengah meningkatnya ketegangan dan menurunnya persediaan komersial.

Aktivitas penyulingan dan pasokan produk olahan pulih lebih lambat dibandingkan pasokan minyak mentah, sehingga pasar produk olahan, termasuk solar dan bensin, menjadi jauh lebih ketat dibandingkan pasar minyak mentah.

Di pasar gas alam, peningkatan pasokan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dari AS, Kanada, dan produsen lainnya telah mengimbangi sekitar 70 persen kekurangan pasokan yang melalui Selat Hormuz.

Namun, penundaan lebih lanjut dalam pemulihan ekspor dari kawasan Teluk dapat memperpanjang ketatnya kondisi pasar dan berdampak pada semua negara pengimpor LNG, termasuk Eropa, yang tengah mengisi kembali cadangan gas untuk menghadapi musim dingin mendatang.

IEA menyerukan penyelesaian konflik yang sedang berlangsung, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz secara "penuh dan tanpa syarat", guna mencegah memburuknya keamanan energi global lebih lanjut.

Penerjemah: Xinhua
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |