Jakarta (ANTARA) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan biaya produksi hidrogen, khususnya green hydrogen dapat ditekan murah melalui pemanfaatan listrik berlebih (excess) dari sumber seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi ditemui di Jakarta, Rabu menjelaskan, pemanfaatan listrik yang tidak terserap oleh sistem kelistrikan dapat dialihkan untuk memproduksi hidrogen.
"Hidrogen itu bisa murah jika kita produksi dari excess listrik. Jadi, kalau excess listrik bisa dari PLTA, bisa dari PLTS," ujar Eniya.
Ia menjelaskan, potensi tersebut semakin besar seiring dengan pengembangan kapasitas PLTS nasional. Menurutnya, apabila kapasitas PLTS mencapai 100 gigawatt (GW), listrik yang dihasilkan pada saat beban rendah dapat dimanfaatkan untuk produksi hidrogen tanpa harus bergantung pada penyimpanan energi menggunakan baterai.
Baca juga: ESDM catat ada 93 proyek ekosistem hidrogen senilai Rp32 triliun
"PLTS 100 gigawatt yang utilisasinya besar, itu tidak perlu baterai. Dan jika siang hari masuk ke grid dan demand-nya nggak ada, bisa kita alihkan untuk memproduksi hidrogen," katanya.
Diketahui biaya produksi green hydrogen berada di angka 3-7 dolar AS per kilogram, biaya produksi grey hydrogen di angka 1-2 dolar AS per kilogram, blue hydrogen 1,5-3 dolar AS per kilogram, dan natural hydrogen 0,5-1,5 dolar AS per kilogram.
Eniya menuturkan, hidrogen memiliki peluang besar untuk mendukung kebutuhan industri nasional, terutama sektor pupuk dan kimia, mengingat sejumlah kebutuhan bahan baku industri saat ini masih bergantung pada impor.
Lebih lanjut, Eniya menjelaskan bahwa hidrogen merupakan energi sekunder yang dihasilkan dari energi primer, sehingga pengembangannya sangat bergantung pada ketersediaan sumber energi.
Baca juga: KESDM: RI berpeluang besar jadi pusat produksi hidrogen di Asia
"Kalau hidrogen itu lebih ke secondary energy, dihasilkan dari energi primer lalu dibangkitkan," katanya.
Selain hidrogen hijau, Kementerian ESDM juga melihat potensi pengembangan hidrogen alami (natural/white hydrogen) yang berasal langsung dari perut bumi sebagai salah satu sumber energi primer potensial di masa depan.
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































