Pefindo proyeksi penerbitan obligasi korporasi tetap solid semester II

2 hours ago 2
salah satu faktor yang menopang penerbitan surat utang korporasi pada semester II-2026 yaitu tingginya kebutuhan refinancing emiten-emiten di pasar modal Indonesia

Jakarta (ANTARA) - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan penerbitan surat utang (obligasi) korporasi tetap berada pada level yang solid sepanjang semester II-2026, seiring tingginya kebutuhan refinancing (pendanaan kembali) dari emiten-emiten di pasar modal Indonesia.

Pefindo memproyeksikan penerbitan surat utang korporasi masih akan berada pada kisaran Rp154 triliun-Rp196,86 triliun dengan titik tengah sebesar Rp175,77 triliun sepanjang 2026, dari realisasi penerbitan telah mencapai Rp87,35 triliun hingga semester I-2026.

"Jadi, sejauh ini proyeksi dari Pefindo sejak awal tahun kemarin masih inline," ujar Kepala Divisi Riset Ekonomi Pefindo Suhindarto dalam konferensi pers Pefindo di Jakarta, Rabu.

Suhindarto menjelaskan salah satu faktor yang menopang penerbitan surat utang korporasi pada semester II-2026 yaitu tingginya kebutuhan refinancing emiten-emiten di pasar modal Indonesia.

Pefindo mencatat nilai surat utang korporasi yang akan jatuh tempo pada semester II-2026 mencapai Rp107,5 triliun, atau hampir dua kali lipat dibandingkan semester I-2026 yang sekitar Rp55 triliun.

"Kalau akhirnya surat utang yang jatuh tempo masih tinggi ini bisa mendorong penerbitan surat utang korporasi di semester kedua, seiring dengan kebutuhan refinancing untuk membiayai kembali surat utang yang jatuh tempo ini juga masih tinggi," ujar Suhindarto.

Baca juga: Pefindo catat penerbitan surat utang korporasi Rp87,35 triliun

Selain itu, Pefindo memproyeksikan kondisi ekonomi domestik tetap stabil pada semester II-2026, didukung oleh kondisi fiskal yang masih bersifat ekspansif dan kebijakan moneter yang diarahkan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.

Suhindarto menilai kondisi itu menciptakan iklim yang lebih kondusif bagi pasar surat utang korporasi, ditambah minat investor terhadap obligasi korporasi yang masih kuat.

Lebih lanjut, di tengah tekanan yang masih membayangi pasar saham sepanjang 2026, Suhindarto menyebut instrumen surat utang menawarkan imbal hasil yang lebih menarik sehingga berpotensi menjadi alternatif investasi bagi investor.

Namun demikian, Ia mengingatkan bahwa masih terdapat sejumlah tantangan yang dapat membatasi penerbitan obligasi korporasi pada semester II-2026, di antaranya risiko geopolitik global, tren kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (US Treasury), serta potensi bertahannya yield acuan di level tinggi akibat suku bunga yang masih ketat.

Selain itu, juga tekanan nilai tukar rupiah, meningkatnya penerbitan Surat Berharga Negara (SBN), hingga persaingan dengan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Baca juga: PEFINDO: Ekonomi riil Indonesia masih tetap solid

Baca juga: Penawaran melonjak, Pefindo sebut prospek obligasi pemerintah positif

Baca juga: Pefindo proyeksi penerbitan obligasi korporasi Rp175 triliun di 2026

Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |