Beijing (ANTARA) - Mantan menteri luar negeri Hassan Wirajuda menilai penguatan tatanan regional di ASEAN menjadi kunci untuk menghadapi gejolak global.
"Bagian-bagian dunia lain boleh tidak stabil, tapi keharusan bagi Indonesia untuk membuat wilayah Asia Tenggara stabil, kuat, dan kohesif, itu satu hal yang mutlak dilakukan," kata Hassan Wirajuda dalam wawancara khusus bersama Antara di Beijing pada Rabu (19/2).
Negara-negara anggota ASEAN yang terdiri dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Brunei Darussalam, Vietnam, Laos, Myanmar, dan Kamboja memiliki kerja sama di bidang ekonomi, politik-keamanan serta sosial dan budaya, yang juga bermitra dengan negara-negara antara lain China, Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, Uni Eropa, Australia, Selandia Baru hingga India.
"Untuk mencapai tatanan regional yang kuat dan kohesif itu pertama dan utama adalah menyelesaikan masalah Myanmar yang belum bisa diselesaikan ASEAN dalam 4 ketua ASEAN, Brunei, Kamboja, Laos dan Indonesia," tambah Hassan.
Bila ASEAN tidak dapat menyelesaikan masalah Myanmar maka ASEAN akan sulit untuk punya peran lebih aktif di kawasan yang lebih luas seperti Asia Timur atau lebih luas lagi Indo-Pasifik.
"Padahal sejak 2005, kita memiliki kesepakatan dalam East Asian Summit yang sejak awal didefinisikan sebagai 'the main vehicle' atau wahana utama untuk menuju pembentukan 'East Asian Community' sehingga bila kita punya Komunitas Asia Timur, sebenarnya dalam menghadapi pergesaran geopolitik tetap punya pegangan," ungkap Hassan.
Indonesia, menurut Hassan, adalah negara yang memulai perluasan definisi "Asia Timur" dari sebelumnya dianggap China, Jepang dan Korea Selatan, menjadi 10 negara ASEAN dan ditambah dengan tiga mitra ASEAN lain yaitu Australia, Selandia Baru dan India sehingga totalnya menjadi 16 negara.
"Menurut saya sangat penting forum East Asia ini menjadi wahana menuju East Asia Community karena pada ujungnya ketahanan regional atau 'regional resilience' ini sangat menentukan di tengah suasana global yang kurang menentu," kata Hassan.
Terlebih di tingkat internasional, ungkap Hassan, tatanan global tidak lagi efektif yang ditunjukkan dengan berbagai proxy war di Timur Tengah seperti di Suriah dan Yaman serta forgotten conflics di negara-negara Afrika seperti Libya, Sudan, maupun Somalia yang membawa negara-negara tersebut menjadi failing states atau menuju negara gagal.
"Kerusakannya luar biasa tapi apa yang dilakukan PBB khususnya Dewan Keamanan PBB? Tidak ada karena payung besar PBB yang menaungi 193 negara anggotanya sudah banyak bolongnya. Teori saya sederhana ketika payung besar tidak cukup lagi menaungi penghuni di bawahnya maka andalannya adalah harus payung regional," jelas Hassan.
Hassan menyebut, dalam kerangka ASEAN-lah negara-negara di Asia Tenggara secara relatif selama bertahun-tahun menikmati suasana damai tanpa perang.
"Konflik internal negara, iya, tapi konflik terbuka, perang di antara negara ASEAN kan tidak ada, sehingga negara-negara ASEAN dapat memfokuskan waktu dan sumber dayanya untuk menjadikan kawasan yang menarik secara ekonomi," ungkap Hassan.
Indonesia, kata Hassan, juga berpartisipasi aktif dalam menjaga keamanan dan perdamaian di kawasan misalnya dengan membantu menyelesaikan masalah-masalah keamanan seperti menjadi mediator dalam negosiasi antara Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF) dan pemerintah Filipina pada 1993-1996 serta penyelesaian konflik antara Kamboja dan Vietnam melalui Jakarta Informal Meeting pada 1987-1989.
"Karena saat itu Presiden Soeharto sangat percaya untuk menjadikan kawasan kita menjadi kawasan yang damai dengan membantu negara tetangga yang bermasalah sehingga kita bersama-sama dapat memajukan ekonomi kita. Sesungguhnya ASEAN itu relatif kecil, karena itu kita tidak cukup mengandalkan wilayah Asia Tenggara saja tapi juga Asia Timur secara keseluruhan," jelas Hassan.
Diketahui saat ini total perdagangan intra-ASEAN pada 2023 berdasarkan data Sekretariat ASEAN mencapai 783,22 miliar dolar AS atau 22 persen dari total perdagangan di ASEAN pada 2023 yang mencapai 3.560,1 miliar dolar AS. Jumlah itu sendiri menurun 10,1 persen dibanding 2022 karena pengaruh kondisi ekonomi global dan dinamika regional.
Namun, negara-negara ASEAN tetap menarik menjadi lokasi investasi asing (FDI) dengan mendapatkan FDI sebesar 3,9 triliun dolar AS pada 2023 atau 17 persen dari total arus masuk FDI global.
FDI tersebut meningkat dengan pengembangan rantai nilai kendaraan listrik (EV), kekuatan fundamental ASEAN sebagai pusat layanan keuangan dan manufaktur serta restrukturisasi rantai pasok internasional.
Sementara berdasarkan data Direktorat Jenderal Bea-Cukai China, selama 8 bulan awal 2024, nilai perdagangan antara China dan ASEAN mencapai 638 miliar dolar AS.
Baca juga: Indonesia punya fondasi kuat hadapi ketegangan China-AS
Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Bayu Prasetyo
Copyright © ANTARA 2025